5th Phase
Bat, Wolf, Fairy, & Magician
Keesokan
harinya aku berangkat bareng Agatha, gak ada maksud tertentu sih,
cuma mau tanya soal perkembangan gadget, di jaman yang makin modern
ini cowok keren gak boleh gaptek. Keliatannya hari ini bakal
ngebosenin. Tapi fakta berkata lain, saat aku nyoba buat tidur pas
istirahat, ada dua orang murid kelas XI yang masuk ke kelas. Seorang
cowo & cewe, penampilan si cowo garang, sementara orang yang
satunya cantik juga. Merekapun segera menghampiri mejaku, perasaan
aku gak buat keributan apapun deh.
“Jadi,
kamu itu murid baru itu ?” tanya si cowok.
“Kita
gak punya maksud apa-apa kok, namaku Kim, kalo ini
Zetsumi Kojiro.” Kata Kim.
“Yah
begitulah, namaku Johann Zeamermann.”
“Sebaiknya
kamu mulai berhati-hati, vampire.” Kata Jiro menyindir
“Biar
kutebak, Werewolf yang suka nge-stalk orang lain ?”
tanyaku dengan nada mengejek
“Hey,
kita sesama supernatural harus saling menjaga satu sama
lain.” Kata Kim sambil
memegang pundak Jiro
“Elf,
Kalo kamu mencariku, aku ada di atap.” Kata Jiro sambil berjalan
keluar kelas.
“Maaf
kalau sifatnya agak kasar.”
“Bukan
masalah.”
“Gimana
kalo sebagai permintaan maaf, nanti
Pulang
sekolah kita makan bareng ?” tanyanya dengan tatapan genit.
“No
problem.”
Gara-gara
kejadian barusan hilang sudah mood buat tidur, semoga aja hari ini
perpustakaan sudah buka. Ternyata perpustakaan masih belum buka, tapi
di pintu ada pengumuman.
“Masih
mencari buku.”
RBC
Shimamura
RBC, kalo
gak salah inisial nama Rebecca. Beneran nih ? Becca, jadi pengurus
perputakaan ? Itu emang hobinya sih, tapi dia bilang dia pingin jadi
penulis sukses. Ternyata tiap orang emang punya jalan hidup
masing-masing.
*
Meskipun
kegiatan belajar-mengajar itu mulai jam 8 pagi sampai jam 3, tapi
setelah itu ada kegiatan ekstra. Gak heran jam segini masih aja ada
anak yang gak pulang ke rumah masing-masing. Termasuk aku, Agatha,
Jiro, & Kim. Aku ada “kencan” sama Kim, Jiro pasti lagi asik
“berburu”, sementara Agatha ngerjain tugas kelompok bareng
temen-temen yang lain. Kim datang terlambat 5 menit, katanya di jalan
ada sedikit “hambatan”, buat orang yang gak sadar lima tahun,
lima menit jadi gak kerasa. Waktu makan dia minta di suapin, udah
gitu duduknya nempel sama aku lagi, keliatannya anak ini lama-lama
ngelunjak deh. Spontan aja abis makan aku bilang kalo ada urusan,
kebetulan aku keluar bareng sama Agatha. Sepanjang perjalanan pulang,
kita cerita satu sama lain, tanya soal ini itu, dan satu lagi soal
Kim.
“Tau gak
?”
“Apaan
?” dia balik nanya
“Kim,
itu.. hunter yang nemenin Jiro.”
“Jiro ?
Oh Zetsumi Kojiro, dia itu mantan Ein, kalo Kim yang kamu maksud Kim
Hyun A, dia
itu..” jelas Agatha
“Genit,
ramah, hmm imut.” Kataku memotong penjelasan Agatha
“Elf,
Cowok, dan seorang hunter.” Katanya singkat
“Ciyus ?
Tapi dia pake seragam cewe” tanyaku gak percaya
“Enelan,
plus dia hampir ngalahin Jiro kalo dia gak waspada.”
Sial, anak
jaman sekarang emang gak bisa ditebak, ditambah tren bishounen(cowok
cantik) udah pasaran. Untuk sesaat aku terdengar kaya kakek-kakek.
Lebih sialnya lagi, aku malah diketawain sama Agatha. Liat aku
ngambek, diapun mengganti topik pembicaraan dan menawarkanku apakah
aku mau... bukan jadi pacarnya atau hubungan kakak-adik, tapi menjadi
anggota Aegis. Untuk sementara aku gak minat, mungkin kalau waktunya
udah pas, jadi buat jaga-jaga dia ngasih aku kartu member
semi-permanen. Katanya kalau terjadi hal yang gawat, patahkan kartu
ini. Tapi keadaan gawat itu relatif, gak ada salahnya nyimpen yang
beginian, dengan begini kita jadi lebih akrab.
Keesokan
harinya, pengumuman yang ada di depan perpus sudah dihapus, semoga
Becca ada, nunggu lama-lama bikin bete. Tanpa membuang lebih banyak
waktu, aku segera memasuki perpus. Ini adalah perpus paling luas yang
pernah kulihat, selain itu ada banyak fasilitas kaya free wi-fi,
ruang ber-AC, dll. Temboknya di cat biru hydrangea, khas warna
kesukaan Becca. Yang pasti lebih spesial dibanding perpustakaan
sekolahku yang lama. Sewaktu aku asik mencari buku yang ingin kubaca,
ada seseorang yang melempar sebuah ensiklopedi ke arahku. Kutangkap
aja ensiklopedi 800 halaman itu dengan satu tangan.
“Ku
tunggu loh.” Kata orang tadi
“Becca
?”
Becca yang
dulu kukenal, masih gak berubah, meskipun dia tambah tinggi beberapa
tahun ini, tapi wajah itu cuma berubah sedikit. Setelah melepas
kangen, diapun bercerita tentang yang terjadi selama aku gak ada.
Beberapa minggu setelah aku koma, Becca sama temen-temen yang lain
dapet hasil UN, hasilnya lulus 100% tapi yang dateng ke acara
perpisahan cuma 99 % gara-gara satu orang sakit, aku orangnya. Selain
itu, dialah yang membuat HP baruku. Katanya saat dia kuliah dia
ngambil mata kuliah mekatronik plus programming, pantesan aja kok di
HP ini ada instruksi tentang ilmu yang minimal dikuasai setengah
Vampire. Sewaktu kutanya penyebab keluargaku dibantai, dia terdiam
sejenak, lalu menceritakan kejadian itu.
Kejadian
itu terjadi tiga tahun lalu, saat kondisi dunia gak stabil,
kriminalitas meningkat, kondisi seperti itu bikin semua orang jadi
nekat. Hampir di semua tempat terjadi kerusuhan, penjarahan, dan
perampokan, tak terkecuali di kota ini. Hari itu, saat tahu kondisi
mulai memburuk, Becca yang selalu menungguku di rumah sakit diantar
pulang oleh papa, tapi karena di jalan situasi lebih berbahaya, Dia
terpaksa bersembunyi di rumahku. Untung beberapa hari sebelumnya,
Hpku sudah selesai dibuat, tanpa membuang banyak waktu, papa dan
Becca menyembunyikannya di basement rumah. Hal yang gak terduga pun
terjadi, sekumpulan orang mulai masuk ke dalam dan merampas semuanya,
gak cuma itu, mereka menyerang papa, mama dan Becca sampai setengah
mati. Pada akhirnya papa menggunakan kemampuannya sebagai vampire
murni dengan memakai teknik yang sangat terlarang, Dominus. Papa
terpaksa melakukannya untuk menyelamatkan Becca yang sedang sekarat.
Sebenarnya Dominus itu menggunakan seluruh darah vampire murni yang
bisa menyebabkan vampir itu mati secara permanen untuk membuat sebuah
mantra yang bisa menyembuhkan semua luka dengan sangat cepat,
sayangnya karena darah papa yang tersisa tinggal dikit, mama
memutuskan untuk memberikan rohnya supaya Dominus tetap bereaksi.
Meskipun gak seperti yang diharapkan, paling gak dominus sukses
membuat Becca bertahan hidup di batas hidup dan mati.
“Gara-gara
aku, kedua orang tuamu..” katanya sambil menitikkan air mata
“Itu
bukan sepenuhnya salahmu, lihat sisi positifnya kita bisa ketemu di tempat
ini, kita
berdua survive, dll.” Jawabku sambil memberinya tissue
“Hiks,
tapi kenapa kamu bisa ada di sekolah ini.”
“Ijasah
SMAku.... gak berlaku.” Jawabku lirih.
“Enjoy
aja.” Balasnya sambil tersenyum geli
Biasanya
perpustakaan ini sering di pake Aegis buat gathering. Jadi mereka
biasanya punya kartu peminjaman khusus gara-gara sering kumpul di
tempat ini. Sayangnya itu cuma berlaku untuk Aegis non-Hunter, jadi
Jiro sama Kim gak bisa dapet. Karena statusnya di sini guru
non-permanen, dia berhak memberi hukuman dan reward buat anak-anak
yang ada di “wilayah”nya. Dalam kasus ini perpustakaan. Jadi dia
minta bantuanku mencari beberapa buku yang hilang karena dipinjam
tanpa ijin. Berhubung aku gak ngerti caranya, mungkin nona warlock
bisa membantu. Meskipun dia gak keberatan, tapi kalo gak ada info
yang jelas rasanya gak mungkin deh, untuk itu aku minta daftar buku
apa aja yang masih belum balik.
*
Meskipun
buku yang belum balik ada puluhan tapi itu bukan masalah. Kebetulan
Agatha tau siapa orang-orang ini, jadi baru sebentar udah ada sepuluh
buku balik. Karena ini gak mungkin dilakukan satu hari, Becca gak
ngasih batas waktu, tapi makin banyak yang balik, ada kejutan
menungguku. Selama jam pelajaran, aku masih kepikiran soal rewardku,
mungkin Kim atau Jiro bisa bantu. Sepulang sekolah, seperti biasa
couple ini ada di atap sekolah jadi gak susah nyari mereka. Kalo Kim
setuju aja nolongin, tapi Jiro, menurutnya ini buang-buang waktu.
Tapi begitu liat ada peminjam non-Aegis, alias Rogue, dia segera
menarikku dan Kim untuk mengejar orang ini. Namanya Juan Marco, dari
ceritanya Kim, dia ini pimpinan preman yang gangguin aku waktu makan
siang dulu.
“Cih,
akhirnya ada alesan buat ngasih pelajaran buat orang
ini.” Kata Jiro penuh semangat.
“Hanz,
soal yang kemaren..” tanyanya menggoda
“Aku gak
mau lagi, kamu udah ngerusak mimpi indahku
belakangan ini.” Kataku sambil
berlari.
Untuk
kekuatan fisik, werewolf adalah juaranya, tapi kelemahan werewolf itu
ada di stamina. Dengan kata lain, mereka bisa menerima banyak
serangan, serangan yang mereka keluarkan juga kuat, tapi sebagai
gantinya mereka gak bisa kelamaan make kekuatan mereka. Elf itu gak
sekuat werewolf atau sakti kaya warlock, tapi mereka bisa menggunakan
lingkungan sebagai senjata, misalnya aja membuat pohon menyerang
musuhnya, keren sih walau agak ribet. Sementara Vampire, vampire
modern, bukan yang klasik, beberapa mengembangkan teknik untuk
menghisap energi kehidupan makhluk di sekitarnya untuk dipakai
sebagai cadangan tenaganya, jadi kalau Vampire berantem 1 lawan 1
sama Werewolf, kemungkinan ada yang menang itu nyaris gak ada.
Pencarian
ini membawaku ke tempat yang belum pernah kudatangi sebelumnya, kata
Jiro biasanya Rogue level C ke atas sering berkeliaran di Bar ini.
Meskpun keliatan kaya bar biasa, ada pengunjung yang mukanya garang,
bartender yang cuek, meja yang berantakan, tapi ada satu hal yang gak
kusuka dari tempat ini, aroma darah segar, seharusnya si
werewolf-otak-kekar (baca : Kojiro) juga bisa mengendusnya.
Sepertinya ada yang habis berantem nih. Awalnya Kim bernegosiasi soal
mengembalikan buku ini itu dan segala macem, hasilnya ? Kim malah
digodain sama seisi Bar. Berikutnya Jiro, tanpa basa basi dia
langsung membanting Juan, melemparnya ke dinding, dan mengancamnya
untuk mengembalikan buku itu secepatnya. Hasilnya ? Juan tetap di
pendiriannya, ditambah kalo dia mati kita juga gak tau di mana buku
itu, padahal buku itu termasuk jenis langka. Mungkin aku bisa ngetes
teknik baru, Overlord. Aku cukup menatap mata Juan dalam-dalam, dan
membuatnya mengikuti semua perintahku. Daripada membuang lebih banyak
waktu, dia kuperintahkan nunjukin dimana dia simpan buku itu, dan itu
berhasil. Ternyata selama ini bukunya disembunyikan di rumahnya.
*
“Gimana,
masih kurang banyak ?” tanyaku sambil mengembalikan setumpuk buku
“Menakjubkan.”
Jawab Becca sambil menghitung semua buku-buku itu.
“Anyway,
kita juga dapet bonus kan ?” tanya Kim penuh harap
“Sudah
pasti, kalian kan temannya Hanz.”
Meskipun
baru 12 yang balik ditambah 1 buku langka, Becca tetap ngasih kita
reward. [Limited Edition] borrower pass buatku, dan [Reguler]
borrower pass buat Jiro dan Kim. Meskipun kesannya pilih-pilih, tapi
masuk akal juga sih. Awalnya Jiro menolak mentah-mentah, tapi abis
diceritain kalo di salah satu rak di perpustakaan ini ada panduan
tentang menghadapi puluhan orang di saat yang bersamaan, Jiro
langsung semangat kaya abis liat bulan purnama. Borrower pass itu
semacam program yang dipake kalo misalnya kita pinjem buku di perpus,
cukup scan barcode yang ada di buku, nanti data peminjamannya
langsung masuk ke server perpustakaan. Yang bikin borrower pass-ku
spesial itu limited edition, selain user ID yang khusus ditambah
desainnya yang... imut. Ini pertama kalinya sepanjang sejarah SMA A04
ada hunter(Jiro & Kim) yang dikasih borrower pass. Mungkin ini
waktu paling pas buat nepatin janjiku ke Becca lima tahun lalu...
No comments:
Post a Comment