Tuesday, November 26, 2013

Bloodlines of Supernatural (5th Phase)


5th Phase
Bat, Wolf, Fairy, & Magician


          Keesokan harinya aku berangkat bareng Agatha, gak ada maksud tertentu sih, cuma mau tanya soal perkembangan gadget, di jaman yang makin modern ini cowok keren gak boleh gaptek. Keliatannya hari ini bakal ngebosenin. Tapi fakta berkata lain, saat aku nyoba buat tidur pas istirahat, ada dua orang murid kelas XI yang masuk ke kelas. Seorang cowo & cewe, penampilan si cowo garang, sementara orang yang satunya cantik juga. Merekapun segera menghampiri mejaku, perasaan aku gak buat keributan apapun deh.         
          “Jadi, kamu itu murid baru itu ?” tanya si cowok.
          “Kita gak punya maksud apa-apa kok, namaku Kim, kalo ini Zetsumi Kojiro.” Kata Kim.
          “Yah begitulah, namaku Johann Zeamermann.”
          “Sebaiknya kamu mulai berhati-hati, vampire.” Kata Jiro menyindir
          “Biar kutebak, Werewolf yang suka nge-stalk orang lain ?” tanyaku dengan nada mengejek
          “Hey, kita sesama supernatural harus saling menjaga satu sama lain.” Kata Kim sambil
          memegang pundak Jiro
          “Elf, Kalo kamu mencariku, aku ada di atap.” Kata Jiro sambil berjalan keluar kelas.
          “Maaf kalau sifatnya agak kasar.”
          “Bukan masalah.”
          “Gimana kalo sebagai permintaan maaf, nanti
          Pulang sekolah kita makan bareng ?” tanyanya dengan tatapan genit.
          “No problem.”
          Gara-gara kejadian barusan hilang sudah mood buat tidur, semoga aja hari ini perpustakaan sudah buka. Ternyata perpustakaan masih belum buka, tapi di pintu ada pengumuman.

          “Masih mencari buku.”
          RBC Shimamura

          RBC, kalo gak salah inisial nama Rebecca. Beneran nih ? Becca, jadi pengurus perputakaan ? Itu emang hobinya sih, tapi dia bilang dia pingin jadi penulis sukses. Ternyata tiap orang emang punya jalan hidup masing-masing.

*

          Meskipun kegiatan belajar-mengajar itu mulai jam 8 pagi sampai jam 3, tapi setelah itu ada kegiatan ekstra. Gak heran jam segini masih aja ada anak yang gak pulang ke rumah masing-masing. Termasuk aku, Agatha, Jiro, & Kim. Aku ada “kencan” sama Kim, Jiro pasti lagi asik “berburu”, sementara Agatha ngerjain tugas kelompok bareng temen-temen yang lain. Kim datang terlambat 5 menit, katanya di jalan ada sedikit “hambatan”, buat orang yang gak sadar lima tahun, lima menit jadi gak kerasa. Waktu makan dia minta di suapin, udah gitu duduknya nempel sama aku lagi, keliatannya anak ini lama-lama ngelunjak deh. Spontan aja abis makan aku bilang kalo ada urusan, kebetulan aku keluar bareng sama Agatha. Sepanjang perjalanan pulang, kita cerita satu sama lain, tanya soal ini itu, dan satu lagi soal Kim.
          “Tau gak ?”
          “Apaan ?” dia balik nanya
          “Kim, itu.. hunter yang nemenin Jiro.”
          “Jiro ? Oh Zetsumi Kojiro, dia itu mantan Ein, kalo Kim yang kamu maksud Kim Hyun A, dia
          itu..” jelas Agatha
          “Genit, ramah, hmm imut.” Kataku memotong penjelasan Agatha
          “Elf, Cowok, dan seorang hunter.” Katanya singkat
          “Ciyus ? Tapi dia pake seragam cewe” tanyaku gak percaya
          “Enelan, plus dia hampir ngalahin Jiro kalo dia gak waspada.”
          Sial, anak jaman sekarang emang gak bisa ditebak, ditambah tren bishounen(cowok cantik) udah pasaran. Untuk sesaat aku terdengar kaya kakek-kakek. Lebih sialnya lagi, aku malah diketawain sama Agatha. Liat aku ngambek, diapun mengganti topik pembicaraan dan menawarkanku apakah aku mau... bukan jadi pacarnya atau hubungan kakak-adik, tapi menjadi anggota Aegis. Untuk sementara aku gak minat, mungkin kalau waktunya udah pas, jadi buat jaga-jaga dia ngasih aku kartu member semi-permanen. Katanya kalau terjadi hal yang gawat, patahkan kartu ini. Tapi keadaan gawat itu relatif, gak ada salahnya nyimpen yang beginian, dengan begini kita jadi lebih akrab.

          Keesokan harinya, pengumuman yang ada di depan perpus sudah dihapus, semoga Becca ada, nunggu lama-lama bikin bete. Tanpa membuang lebih banyak waktu, aku segera memasuki perpus. Ini adalah perpus paling luas yang pernah kulihat, selain itu ada banyak fasilitas kaya free wi-fi, ruang ber-AC, dll. Temboknya di cat biru hydrangea, khas warna kesukaan Becca. Yang pasti lebih spesial dibanding perpustakaan sekolahku yang lama. Sewaktu aku asik mencari buku yang ingin kubaca, ada seseorang yang melempar sebuah ensiklopedi ke arahku. Kutangkap aja ensiklopedi 800 halaman itu dengan satu tangan.
          “Ku tunggu loh.” Kata orang tadi
          “Becca ?”
          Becca yang dulu kukenal, masih gak berubah, meskipun dia tambah tinggi beberapa tahun ini, tapi wajah itu cuma berubah sedikit. Setelah melepas kangen, diapun bercerita tentang yang terjadi selama aku gak ada. Beberapa minggu setelah aku koma, Becca sama temen-temen yang lain dapet hasil UN, hasilnya lulus 100% tapi yang dateng ke acara perpisahan cuma 99 % gara-gara satu orang sakit, aku orangnya. Selain itu, dialah yang membuat HP baruku. Katanya saat dia kuliah dia ngambil mata kuliah mekatronik plus programming, pantesan aja kok di HP ini ada instruksi tentang ilmu yang minimal dikuasai setengah Vampire. Sewaktu kutanya penyebab keluargaku dibantai, dia terdiam sejenak, lalu menceritakan kejadian itu.

          Kejadian itu terjadi tiga tahun lalu, saat kondisi dunia gak stabil, kriminalitas meningkat, kondisi seperti itu bikin semua orang jadi nekat. Hampir di semua tempat terjadi kerusuhan, penjarahan, dan perampokan, tak terkecuali di kota ini. Hari itu, saat tahu kondisi mulai memburuk, Becca yang selalu menungguku di rumah sakit diantar pulang oleh papa, tapi karena di jalan situasi lebih berbahaya, Dia terpaksa bersembunyi di rumahku. Untung beberapa hari sebelumnya, Hpku sudah selesai dibuat, tanpa membuang banyak waktu, papa dan Becca menyembunyikannya di basement rumah. Hal yang gak terduga pun terjadi, sekumpulan orang mulai masuk ke dalam dan merampas semuanya, gak cuma itu, mereka menyerang papa, mama dan Becca sampai setengah mati. Pada akhirnya papa menggunakan kemampuannya sebagai vampire murni dengan memakai teknik yang sangat terlarang, Dominus. Papa terpaksa melakukannya untuk menyelamatkan Becca yang sedang sekarat. Sebenarnya Dominus itu menggunakan seluruh darah vampire murni yang bisa menyebabkan vampir itu mati secara permanen untuk membuat sebuah mantra yang bisa menyembuhkan semua luka dengan sangat cepat, sayangnya karena darah papa yang tersisa tinggal dikit, mama memutuskan untuk memberikan rohnya supaya Dominus tetap bereaksi. Meskipun gak seperti yang diharapkan, paling gak dominus sukses membuat Becca bertahan hidup di batas hidup dan mati.

          “Gara-gara aku, kedua orang tuamu..” katanya sambil menitikkan air mata
          “Itu bukan sepenuhnya salahmu, lihat sisi positifnya kita bisa ketemu di tempat ini, kita
          berdua survive, dll.” Jawabku sambil memberinya tissue
          “Hiks, tapi kenapa kamu bisa ada di sekolah ini.”
          “Ijasah SMAku.... gak berlaku.” Jawabku lirih.
          “Enjoy aja.” Balasnya sambil tersenyum geli
          Biasanya perpustakaan ini sering di pake Aegis buat gathering. Jadi mereka biasanya punya kartu peminjaman khusus gara-gara sering kumpul di tempat ini. Sayangnya itu cuma berlaku untuk Aegis non-Hunter, jadi Jiro sama Kim gak bisa dapet. Karena statusnya di sini guru non-permanen, dia berhak memberi hukuman dan reward buat anak-anak yang ada di “wilayah”nya. Dalam kasus ini perpustakaan. Jadi dia minta bantuanku mencari beberapa buku yang hilang karena dipinjam tanpa ijin. Berhubung aku gak ngerti caranya, mungkin nona warlock bisa membantu. Meskipun dia gak keberatan, tapi kalo gak ada info yang jelas rasanya gak mungkin deh, untuk itu aku minta daftar buku apa aja yang masih belum balik.

*

          Meskipun buku yang belum balik ada puluhan tapi itu bukan masalah. Kebetulan Agatha tau siapa orang-orang ini, jadi baru sebentar udah ada sepuluh buku balik. Karena ini gak mungkin dilakukan satu hari, Becca gak ngasih batas waktu, tapi makin banyak yang balik, ada kejutan menungguku. Selama jam pelajaran, aku masih kepikiran soal rewardku, mungkin Kim atau Jiro bisa bantu. Sepulang sekolah, seperti biasa couple ini ada di atap sekolah jadi gak susah nyari mereka. Kalo Kim setuju aja nolongin, tapi Jiro, menurutnya ini buang-buang waktu. Tapi begitu liat ada peminjam non-Aegis, alias Rogue, dia segera menarikku dan Kim untuk mengejar orang ini. Namanya Juan Marco, dari ceritanya Kim, dia ini pimpinan preman yang gangguin aku waktu makan siang dulu.
          “Cih, akhirnya ada alesan buat ngasih pelajaran buat orang ini.” Kata Jiro penuh semangat.
          “Hanz, soal yang kemaren..” tanyanya menggoda
          “Aku gak mau lagi, kamu udah ngerusak mimpi indahku belakangan ini.” Kataku sambil
          berlari.
          Untuk kekuatan fisik, werewolf adalah juaranya, tapi kelemahan werewolf itu ada di stamina. Dengan kata lain, mereka bisa menerima banyak serangan, serangan yang mereka keluarkan juga kuat, tapi sebagai gantinya mereka gak bisa kelamaan make kekuatan mereka. Elf itu gak sekuat werewolf atau sakti kaya warlock, tapi mereka bisa menggunakan lingkungan sebagai senjata, misalnya aja membuat pohon menyerang musuhnya, keren sih walau agak ribet. Sementara Vampire, vampire modern, bukan yang klasik, beberapa mengembangkan teknik untuk menghisap energi kehidupan makhluk di sekitarnya untuk dipakai sebagai cadangan tenaganya, jadi kalau Vampire berantem 1 lawan 1 sama Werewolf, kemungkinan ada yang menang itu nyaris gak ada.

          Pencarian ini membawaku ke tempat yang belum pernah kudatangi sebelumnya, kata Jiro biasanya Rogue level C ke atas sering berkeliaran di Bar ini. Meskpun keliatan kaya bar biasa, ada pengunjung yang mukanya garang, bartender yang cuek, meja yang berantakan, tapi ada satu hal yang gak kusuka dari tempat ini, aroma darah segar, seharusnya si werewolf-otak-kekar (baca : Kojiro) juga bisa mengendusnya. Sepertinya ada yang habis berantem nih. Awalnya Kim bernegosiasi soal mengembalikan buku ini itu dan segala macem, hasilnya ? Kim malah digodain sama seisi Bar. Berikutnya Jiro, tanpa basa basi dia langsung membanting Juan, melemparnya ke dinding, dan mengancamnya untuk mengembalikan buku itu secepatnya. Hasilnya ? Juan tetap di pendiriannya, ditambah kalo dia mati kita juga gak tau di mana buku itu, padahal buku itu termasuk jenis langka. Mungkin aku bisa ngetes teknik baru, Overlord. Aku cukup menatap mata Juan dalam-dalam, dan membuatnya mengikuti semua perintahku. Daripada membuang lebih banyak waktu, dia kuperintahkan nunjukin dimana dia simpan buku itu, dan itu berhasil. Ternyata selama ini bukunya disembunyikan di rumahnya.

*

          “Gimana, masih kurang banyak ?” tanyaku sambil mengembalikan setumpuk buku
          “Menakjubkan.” Jawab Becca sambil menghitung semua buku-buku itu.
          “Anyway, kita juga dapet bonus kan ?” tanya Kim penuh harap
          “Sudah pasti, kalian kan temannya Hanz.”
          Meskipun baru 12 yang balik ditambah 1 buku langka, Becca tetap ngasih kita reward. [Limited Edition] borrower pass buatku, dan [Reguler] borrower pass buat Jiro dan Kim. Meskipun kesannya pilih-pilih, tapi masuk akal juga sih. Awalnya Jiro menolak mentah-mentah, tapi abis diceritain kalo di salah satu rak di perpustakaan ini ada panduan tentang menghadapi puluhan orang di saat yang bersamaan, Jiro langsung semangat kaya abis liat bulan purnama. Borrower pass itu semacam program yang dipake kalo misalnya kita pinjem buku di perpus, cukup scan barcode yang ada di buku, nanti data peminjamannya langsung masuk ke server perpustakaan. Yang bikin borrower pass-ku spesial itu limited edition, selain user ID yang khusus ditambah desainnya yang... imut. Ini pertama kalinya sepanjang sejarah SMA A04 ada hunter(Jiro & Kim) yang dikasih borrower pass. Mungkin ini waktu paling pas buat nepatin janjiku ke Becca lima tahun lalu...

No comments:

Post a Comment