Tuesday, October 15, 2013

Curhat Session

Numpang Curhat

Sudah beberapa bulan blog ini berdiri
tapi melihat perkembangannya, rasanya bikin putus asa.
Yah, semua orang pasti pernah putus asa, kehilangan passion,
dll. Anyway,
 Ookami butuh penasehat nih, kalo ada yang berkenan dan ga
keberatan, contact di Orlando Kagayami d(Xu-- )

Ookami
\(Xu<)/

Bloodlines of Supernatural (2nd Phase)




2nd Phase
Awakening


           “Cerita yang bagus, kuberi nilai 8 deh.” Kata cewe misterius itu
           “Bawel. Siapa namamu ?”
           “Agatha Tristan. Jadi apa yang mau kamu lakukan sekarang ?”
           “Pulang, aku mau ngecek beberapa hal.” Kataku sambil
           melepas selang infus yang masih tertancap di tanganku.
           “Seluruh keluargamu...”
           “Dibantai, aku bisa lihat itu dari ekspresimu.” Kataku menyela
           “Turut berduka cita.” Katanya sambil menundukan kepala
           “Itu gak perlu, aku sudah siap kalo hari ini akan datang,
           satu hal, bisakah kau memberiku baju yang lebih layak”
           “Ini.” Jawabnya sambil menyerahkan T-shirt, celana panjang dan pakaian dalam
           Sudah berapa tahun ya gak ganti baju. Tanpa membuang banyak waktu, aku segera membersihkan diri setelah bertahun-tahun gak mandi dan ganti baju. Sewaktu aku melihat ke cermin, gak terlihat satupun tanda penuaan, kalau orang pikir vampire gak punya bayangan, itu salah, mereka cuman menyembunyikan bayangan mereka aja. Meskipun cuma keliatan kaya anak 18 tahun, rambutku jadi gondrong gak karuan, makanya aku pinjam pisau dari Agatha, dan merapikan sedikit rambutku. Sebenarnya sejak SMA aku pengen gondrong, biar keliatan kaya anak band, tapi karena peraturan sekolah, terpaksa deh.

           Karena sudah keinginanku sejak lama, aku cuma memotong sedikit rambutku, dan sisanya kuikat model ponytail. Setidaknya, rambut panjang ini bisa menghiburku sedikit. Selama gak sadar, aku mempersiapkan kalo hal ini akan terjadi. Papa, mama, semoga kalian tenang. Firasatku mengatakan, papa pasti meninggalkan biaya untuk masa depanku di suatu tempat, setidaknya sampai lulus kuliah, ingat kuliah... ijazah SMA ku pasti sudah gak berlaku. Yang penting aku harus segera mengambil peninggalan ayah.

           Ketika aku hendak keluar dari kamar ini, ada semacam penghalang tembus pandang yang mencegahku untuk keluar. Ini trik yang harus dikuasai seorang warlock, karena mereka makhluk supernatural yang memfokuskan kekuatan mereka di sihir dan kutukan. Dan aku tau siapa yang membuat barrier ini.
           “Bisa tolong buka barrier ini ?”
           “Mundur.” Kata Agatha sambil menggambar semacam gylph di udara

           Aku baru tau, cara warlock menggunakan sihir mereka. Mulai dari sini, mungkin aku bisa bekerja part-time di suatu tempat, tambah pengalaman dan ilmu. Waktunya mengucapkan selamat tinggal pada warlock menyebalkan ini.
           “Selamat tinggal, thanks buat baju dan celananya.” Kataku
            sambil melangkah keluar.
           “Mungkin aku harus menemanimu, banyak yang berubah
           dalam lima tahun terakhir.” Katanya sambil mendahului keluar kamar.

           Yang dia bilang ada benernya juga, sepanjang jalan, image kota yang kukenal sudah berubah, banyak orang yang menggunakan hp touchscreen, sekumpulan orang yang saling bertarung tangan kosong, papan iklan yang menggunakan layar LCD, dan hal baru lainnya. Setidaknya tata kota ini gak banyak berubah sejak aku koma, sekarang yang menjadi tempat tujuan pertamaku : klinik papa. Sesampainya di sana, bangunan itu sudah berubah jadi puing-puing, seperti habis terbakar, di dalamnya banyak batu, runtuhan bangunan, sampah, dll bertumpuk menjadi satu. Seharusnya ruang prakteknya masih utuh karena terletak di bagian dalam, dan bener aja, meskipun tertutup debu tapi semuanya masih dalam kondisi utuh. Di meja kerjanya ada sebuah amplop, begitu kubuka isinya keluar aroma yang kubenci tapi harus kuakui memang harum, sebuah surat yang ditulis dengan darah. Dari cerita yang sering kudengar, surat yang ditulis dengan darah vampire biasanya isinya gak main-main, tapi kalo yang nulis papa... aku gak yakin soal isinya.

           Johann, anakku

           Kalau kamu membaca surat ini, kemungkinan besar papa dan mama gak bisa
           menemanimu lagi. Maaf kalo kami pergi tanpa pamit. Setahun setelah kamu
           koma aku akhirnya menemukan sumber penyakitmu belakangan ini. Penyakitmu
           itu terjadi karena sel-sel dalam tubuhmu mulai mengalami degenerasi, kasus
           seperti ini belum pernah terjadi pada vampire manapun. Saat ini aku masih
           mencari penangkalnya.
           “Kenangan yang terlukiskan, sebagian diriku yang tertidur dalam tubuhmu,
           kunci yang tak bertahan lama, pecahkan dan kau tau.”

           Ruben Zeamermann

           Aku gak percaya papa kali ini serius. Papa memang suka bikin teka-teki, mungkin teka-teki ini ada maksudnya. Bertahun-tahun gak mikir, pikiranku mulai tumpul, terpaksa deh minta bantuan si cerewet nyebelin(Agatha maksudnya). Mari kita lihat, kenangan yang terlukis.....
           “Foto atau lukisan mungkin.” Jawabnya sambil membaca surat itu berulang kali
           “O~ke, sebagian diriku yang tertidur dalam tubuhmu.”
           “Ingatan atau kekuatan, apa yang kamu warisi ?”
           “DNA, kamu mungkin belum tahu aku ini setengah vampire.”
           “Belum ada setahun sejak aku ditugaskan buat menjagamu, jadi begitulah.”
           “Thanks buat perlindungannya, pecahkan dan kau tahu.”
           “kode.” Kataku bersamaan dengannya
           “Tinggal satu, kunci yang tak bertahan lama.” Katanya penasaran
           Satu-satunya lukisan keluarga yang kumiliki cuma ada di rumah. Tujuan berikutnya : rumah. Dari teka-teki tadi cuma tinggal satu yang belum terjawab, “kunci yang tak bertahan lama. Semoga aja dirumah semua kode ini jadi jelas.

*

           Ibarat langit dan bumi, kondisi ruang praktek papa dengan rumah berbeda 180°. Bentuk yang dulu sudah gak kelihatan, paling cuma satu atau dua tembok. Firasatku mengatakan ada hal yang mencurigakan, di saat seperti ini harus inget apa yang dikatakan papa “Berpikir positif bagus untuk tubuhmu”, oke kali ini kuikuti saranmu. Begitu kulihat lebih dekat, ternyata ada semacam pintu di balik lantai yang dulunya ditempati kulkas, karena sudah gak ada yang nutupin, pintu itu kubuka dengan perlahan-lahan.... *BRAK* lepas beserta engselnya, apa yang terjadi sama tubuhku ya ? Mungkin aku harus mengurangi kekuatanku mulai saat ini. Kembali ke pintu, di balik pintu tadi ada lorong yang cuma bisa dilewati satu orang, berhubung dia juga penasaran, dia masuk lorong itu lebih dulu. Mungkin sekalian biar aku gak bisa ngintip bagian bawah roknya, meski aku gak mikir sejauh itu. Sesampainya di bawah kami disambut ruangan yang gelap.
           “Luce Balteo” kata Agatha sambil menggambar gylph di udara, keren juga.

           Gylph tadi berubah menjadi sebuah orb yang bersinar dan mengelilingi Agatha. Masalah penerangan terselesaikan. Mungkin ruangan ini lebih besar dari yang kukira, di saat kami berjalan ada sesuatu yang mengikuti kami, bukan hantu, yang dikatakan orang jaman dulu ada benernya, hantu itu gak nyentuh tanah karena mereka lebih ringan dari pada udara. Keliatannya sejak masuk rumah kami memang sudah diikuti, kira-kira ada tiga atau empat orang, postur tubuh tegap dan cukup kokoh. Mereka pasti berniat merampas apapun yang tersisa dari rumah ini dan memiliki nilai jual, sebelum mereka melakukan hal itu, mereka harus melangkahi mayatku dan Agatha.
           “Apa yang kalian cari ?” tanyaku sambil nunjuk orang yang
           kemungkinan pemimpinnya
           “Apapun yang bisa kami jual, misalnya harta yang
           tersembunyi, organmu, atau pacarmu yang cantik itu...”
           “Ignis Lancea !!” kata Agatha sambil menembakkan tombak api ke orang itu
           “Bos ?!” kata para bawahan
           “Aku bukan pacar orang ini !!” kata Agatha sambil bersiap-siap menembak lagi
           “Dasar cemen, beraninya ngumpet di belakang cewek !” teriak salah seorang
           Pencuri sambil mengacungkan jari tengahnya

           Orang ini... berani-beraninya dia... masuk tanpa permisi... bilang cemen lagi... ngumpet di belakang cewe ?..... acungin jari tengah..... pencuri sialan. Darahku terasa mendidih saat memikirkan ucapan pencuri itu, mungkin ini melanggar perjanjian vampire dengan manusia tapi orang ini gak akan keluar dalam kondisi utuh.

           *ctik* aku hanya menjentikan jari
           “hunghhghh.” Rintih pencuri yang berada di paling belakang sambil
           memegang lehernya.
           “apa yang terjadi ?” tanya pencuri ketiga sambil menodongkan pisau dan
           bersiap-siap menusukku dengan kecepatan penuh.
           Aku hanya melakukan beberapa gerakan satu tangan untuk menggerakkan pisau orang tadi, membuatnya mengambang di udara dan mengarahkannya tepat 1 cm di depan mata pencuri itu.

           “Kumohon jangan” katanya sambil berlutut dan menitikkan air mata.
           Sungguh pemandangan yang menyedihkan. Akupun menurunkan pisau tadi, lalu menancapkannya dengan kecepatan tinggi diantara mata pencuri itu. Melihat teman-temannya mati sia-sia, pencuri gak tau sopan santun tadi langsung ambil langkah seribu, tapi belum sempat dia mengambil langkah pertama, aku sudah menggerakkan tubuhnya agar berjalan ke arahku.
           “Kau monster !” katanya sambil menangis ketakutan
           “Serius ? bukannya aku ini cemen ?” kataku sambil
           mematahkan lengannya perlahan
           *THACHK*
           “AAAAAAAAARAGHH !!!! Maafkan aku” lanjutnya sambil meringis menahan sakit
           “Ah, satu lagi, ngumpet di belakang cewe ?” kakinya gak luput dari hitunganku
           “Johann, hentikan sekarang juga!” kata Agatha sambil menarik lengan bajuku
           “Hey, aku sedang bersenang-senang.” Kataku cuek
           “Tapi ini salah !” katanya sambil memukul-mukul punggungku
           “Dia benar, pasti ada cara lain.” Si pencuri ikut campur pembicaraan ini
           “Ya sudah, aku maafin deh”
           “terima..” kata pencuri yang menggenaskan itu
           *KRAKK SHRACK DUG… DUG…DUG…DUG…* suara yang keluar saat kucabut jantung orang itu, seumur hidup aku belum pernah berantem karena aku memiliki kekuatan yang gak dimiliki bahkan oleh vampire murni, mengendalikan darah, sebenarnya ini cuma bentuk upgrade psikokinetik, cuman belum pernah ada yang bisa sampai sejauh ini. 
 
           “Tapi bo’ong” kataku sambil melanjutkan perjalanan
           *PLAK* Agatha menamparku meskipun cuma buang-buang tenaganya, karena dia tau regenerasiku gak kalah cepet sama vampire murni. Keliatannya dia masih marah soal yang tadi.
           “Apa maksudmu ? membunuh orang dengan cara yang
           kejam itu memang sifat vampire ya ?” dia menghujaniku dengan pertanyaan
           “bukan, dia yang mulai…” kataku membela diri
           “Coba bayangkan perasaan orang tuamu saat mereka
           tau kamu membunuh orang dengan tidak manusiawi ?”

           Astaga, aku memang gak berpikir sejauh itu, kalau gini aku gak ada bedanya sama orang-orang yang menindas orang yang lebih lemah dari pada mereka. Ini membuatku menjadi pecundang yang sebenarnya. Diam aja gak akan menyelesaikan apapun, kami segera melanjutkan perjalanan, dan setelah berjalan cukup lama akhirnya ujung terowongan ini kelihatan. Sebuah tembok, alias jalan buntu, tapi ada yang aneh di tembok ini, kalau dilihat dengan mata biasa mungkin sama dengan tembok biasa, tapi kalau dilihat dengan lebih fokus, ada semacam garis yang diukir di tembok ini. Mungkin ini ada hubungannya dengan kode tadi, “Kenangan yang terlukiskan, sebagian diriku yang tertidur dalam tubuhmu, kunci yang tak bertahan lama, pecahkan dan kau tau”, lukisan DNA, kunci yang tak bertahan lama. Ini cuma bikin frustasi.

           “Pinjam pisaumu lagi.”
           “Buat apa ?” tanyanya sambil memberikan sebilah pisau
           Tanpa pikir panjang aku menyayat pergelangan tanganku. Darah segarpun keluar dari luka yang mulai menutup… kutemukan jawabannya, darah yang masih keluar tadi kucolek dan kuusapkan ke tembok itu. Meskipun cuma goresan kecil, dari goresan darah tadi muncul garis yang bergerak ke setiap bagian tembok ini dan membentuk sebuah lukisan pohon keluarga. Meskipun tulisannya mulai memudar dimakan waktu, tapi namaku masih tertulis jelas disana, mungkin di buat belum lama ini. Ini semacam OOPArt (Out Of Place Artifact) meskipun ada namaku di sana tapi aku sudah kehabisan ide. Agatha yang masih ngambek, menyimpulkan kalau sistem kerjanya seperti touchscreen. Berhubung di jamanku belum ada yang secanggih itu, sisanya kuserahkan pada Agatha, semoga aja ini bisa bikin moodnya lebih baik. Sepertinya usahanya mulai membuahkan hasil, lorong yang baru saja kulewati tiba-tiba menjadi terang, selain itu dari salah satu ubin muncul sebuah pilar. Diatasnya ada sepucuk surat dan sebuah… HP ? Mungkin aku harus membiasakan diri dengan jaman yang makin cepat ini. Tanpa seijinku, Agatha dengan cepat mengambil surat yang pasti ditulis khusus untukku.

           Untuk siapapun yang membaca surat ini

           Aku menitipkan anakku satu-satunya setidaknya sampai Ia bisa menafkahi
           dirinya sendiri. Apabila setelah membaca surat ini anda tidak bisa menyanggupi
           hal tersebut maka mantra kutukan di bawah ini akan aktif .

           “kegelapan datang seiring dengan pergantian siang menjadi malam, hanya
           kepedihan yang luar biasa yang bisa membuatmu patuh”

           P,S : Bilang pada anakku kalau ayahnya sudah berhasil menyelesaikan serum
           penawar penyakitnya dan menggunakannya untuk memperbaiki selnya yang
           rusak.

           Natasha Zeamermann


           “ini gak bercanda kan ?” tanya Agatha ketakutan.
           “mantra yang ditulis dengan darah vampire murni
           gak pernah meleset loh.” Jawabku menakut-nakuti.
           Karena isi suratnya cuma itu, mau gak mau, Agatha “dengan sukarela” membiarkanku tinggal di rumahnya. Sepertinya ini lanjutan kode tadi, bedanya surat yang ini ditulis oleh mama dengan tinta darah papa. Soal HP tadi, dari luar keliatan kaya HP touchscreen biasa, begitu kuaktifkan, dari layarnya muncul, semacam scanner, kucoba dengan sidik jari gak ada efek, begitu kudekatkan ke mataku, scannernya mulai berfungsi. Menurut Agatha, belum pernah ada dengan model kaya gini sebelumnya, dan kemungkinan besar HP ini handmade, tapi siapa ya ? Perasaan papa sama sekali gak ngerti teknologi, mama ngerti cukup banyak sih, tapi gak serumit ini. Siapapun yang buat, terima kasih banyak. Karena udah gak ada kode atau yang lainnya, untuk sementara aku akan tinggal di rumah Agatha

Tuesday, October 8, 2013

Bloodlines of Supernatural (1st Phase)


1st Phase
Sleep


               Mari kita mundur ke lima tahun lalu, waktu semuanya masih normal, kurang lebih. Seperti keluarga besar pada umumnya, kalau ada satu yang menjadi aib pasti akan diusir dari keluarga itu. Dan hal itu terjadi pada papa, cuma gara-gara dia menikah sama mama yang notabene cuma orang biasa, lebih tepatnya manusia biasa. Tapi liat sisi positifnya, aku mewarisi kekuatan vampire murni, meskipun gak semuanya (kekuatan manusia super, regenerasi cepet, penuaan melambat), plus karena mama itu manusia biasa, aku gak akan lemes meskipun dijemur di bawah sinar matahari, disiram air suci, salib, dan satu lagi bawang putih. Sekarang aku kelas 3 SMA, untuk ukuran cowok, aku termasuk populer di kalangan cewek-cewek. Kata mereka aku itu cool, ganteng, misterius, dll. Minggu lalu ujian nasional, cuma tinggal nunggu hasilnya, semoga aja diatas rata-rata. Masa cowok cuma modal tampang doang, gak banget kan ? Tapi sejak ujian kemaren, rasanya ada yang gak beres sama badanku, rasanya kadang-kadang lemes, pusing, trus katanya temen-temen sekelas, aku jalan kaya orang mabuk. Jangan-jangan... aku positif... anemia. Itu gak mungkin, mana ada vampire anemia. Dari kecil (setengah vampire juga pernah jadi anak kecil, gak cuma manusia aja) perasaan aku gak pernah sakit deh, paling cuma flu, masuk angin (menyedihkan), mungkin papa tau apa yang harus kulakukan.

               Untungnya papa seorang dokter, semoga aja dia tau apa yang salah dengan tubuhku. Sepulang sekolah langsung aja, aku pergi ke kliniknya.
               “Pap, pengen ganggu boleh gak ?”
               “Gak biasanya kamu main ke sini, ada apa ? Sukses nembak cewek ?
               ditolak ?” kata papa sambil bercanda

               Papa boleh saja vampire murni, tapi dia berhasil menahan keinginannya untuk menggigit orang lain, mungkin itu yang bikin mama terkesan. Selain itu menurut umur manusia, seharusnya umur papa sudah 50 tahun, tapi keliatan kaya pertengahan 30 (serius nih). Meskipun posisinya kepala keluarga, tapi sifatnya yang childish emang gak berubah.
               “Pap, rasanya ada yang gak beres sama badanku.”
               “Maksudmu ?”
               “Jadi...bla bla bla(kujelasin panjang x lebar)..., apa ini faktor keturunan ?”
               “Aneh, kasus seperti ini belum pernah terjadi sama vampire manapun.”
               “Serius nih ?” aku jadi makin penasaran.
               “Berapa umurmu ?” papa malah balik nanya.
               “17, ada yang salah ?”
               “Kuambil sampel darahmu, mungkin besok hasilnya keluar” kata papa serius
               Gak biasanya papa bisa seserius ini. Tanpa membuang banyak waktu, papa langsung ambil jarum suntik dan mengambil sampel darahku. Setelah itu, aku memutuskan untuk langsung pulang, biasanya kalo pulang telat mama pasti marah-marah.

*

               Dan benar saja, baru sampe di depan rumah, mama udah nunggu di depan pintu, lengkap dengan sarung tinju kesayangannya. Meskipun mama cuma manusia biasa, tapi pukulannya nyeremin banget, papa aja sampai gak berani pulang seminggu gara-gara ribut sama mama. Mungkin aku harus siap-siap nahan pukulan mama yang kekuatannya setara sama truk yang ngangkut sapi.

               “Maaf, aku pulang telat gak kasih tau.” Kataku sambil siapin kuda-kuda
               “Kamu ini memang mirip papamu,
               jangan diulangi lagi ya.” Kata mama sambil mengusap rambutku.
               Untung moodnya mama lagi bagus, coba aja lagi badmood. Buat nebus kesalahanku, hari ini aku ngerapi’in rumah, bersih-bersih, dsb. Malam ini papa gak pulang buat nunggu hasil tes sampel darahku. Buat yang pengen tau sejarah vampire, sini aku jelasin. Pertama tama, yang namanya energi itu gak bisa dilihat, tapi bisa di rasakan dan ada pengaruhnya sama manusia. Kedua sel-sel manusia itu bisa mengalami mutasi kalau terkena (radiasi) energi yang cukup kuat. Kembali ke topik, jadi dulu sekali, abad pertengahan kalau gak salah, ada seorang manusia biasa yang terkena semacam energi, sel-sel di tubuhnya mulai bermutasi, dan tak lama kemudian dia berubah, bukan jadi power ranger atau kamen rider, apalagi sailor moon, tapi dia berubah jadi vampire yang pertama. Setelah beberapa generasi, vampire semakin beradaptasi dengan lingkungan, dan sayangnya mereka mulai menyerang manusia.

               Tak lama kemudian, manusia mulai melawan vampire dengan segala cara, dan ini berlangsung lama, sangat lama. Sampai akhirnya kedua pihak saling sepakat, selama vampire gak menyerang manusia, manusia gak akan membalas. Tapi masih ada juga vampire yang nekat, makanya ada beberapa orang yang mempelajari kelemahan vampire dan menggunakannya sebagai cara untuk menjaga keseimbangan antara vampire dan manusia. Seiring waktu berjalan ras yang lain mulai menunjukkan eksistensi mereka, werewolf, elf dan warlock. Daripada memperkeruh suasana, ras-ras yang lain(termasuk) vampire) memilih untuk hidup bersama manusia dalam harmoni.

*

               Keesokan harinya.
               Pagi ini mama bikin sarapan spesial, pasta maccaroni plus ayam goreng. Gak biasanya mama masak spesial gini, bukan waktunya mikir yang aneh-aneh, sarapan itu penting. Selesai sarapan, aku berpamitan dengan mama, kali ini malah lebih aneh lagi, sebelum berangkat mama memelukku.
               “Ma, aku bukan anak TK.” Kataku protes
               “Tapi kamu anak mama satu-satunya, jangan berantem
               di sekolah ya, mama gak mau kamu kena masalah.” Katanya sambil melepas pelukan
               “Oke, aku berangkat”
               Kalau kemaren dan beberapa hari sebelumnya rasanya agak loyo, hari ini badanku rasanya ringan. Selama aku sekolah dengan orang biasa yang gak tau apapun soal vampire dan sejenis, aku mencoba untuk membaur, walaupun kadang muncul godaan untuk merasakan nikmatnya darah segar, sebisa mungkin kucoba untuk mengalihkan keinginan itu. Tapi kalo emang dasarnya vampire agak susah, apalagi waktu pelajaran olahraga, dijamin bikin orang terkejut. Untungnya selama ini gak ada satupun orang yang berpikir aku ini mewarisi darah vampire.

               Sesampainya di sekolah, seperti biasa aku masuk sembunyi-sembunyi kalau gak mau dikejar cewek-cewek itu. Sebenarnya ada satu orang yang tau jalan ini, karena bagian belakan gudang sekolah yang digosipkan angker jadi gak banyak yang berani lewat sini. Kecuali satu orang, selain aku tentunya, namanya Rebecca Shimamura, manis tapi dewasa, plus dia punya hobi yang sama denganku, baca buku. Mungkin itu yang bikin dia agak dijauhi sama anak-anak yang lain, makanya aku lebih deket sama dia dibanding cewek lainnya, sebagai temen tentunya. Hari ini dia sudah menunggu di samping gudang sekolah.
               “Becca.” Kataku pelan
               “Hanz, nice timing, mumpung lagi sepi nih.”
               Aku memanggilnya Becca, sementara dia manggil aku Hanz. Pagi itu kami lewati dengan menyusuri koridor yang jarang dipakai. Hari ini masih sama seperti kemarin, class-meeting, daripada nganggur gak ada kerjaan, mending ke perpustakaan aja, lumayan bisa tambah ilmu. Biasanya kalau ketemu dengannya kami membicarakan... lebih tepatnya debat soal ilmu pengetahuan, fakta-fakta, rumor, dan sebagainya. Selain membaca, satu hal yang menjadi kesamaan kami : menghabiskan waktu di perpustakaan. Kali ini dia membaca ensiklopedi, sementara aku membaca novel, karena aku sudah membaca separuh buku yang ada di perpustakaan sekolah, jadi buat refreshing aja.

               Tiba-tiba, aku merasakan tubuhku mulai berat seperti sebelumnya, di tambah pengelihatanku mulai gak fokus, jadi aku memutuskan untuk istirahat di ruang UKS. Buat bangun dari kursi rasanya berat setengah mati, ngeliat aku bangun dengan susah payah, Rebecca menarik lenganku dan meletakkannya di bahunya.
               “Becca, aku gak apa-apa.” Kataku sesehat mungkin
               “Nilai olahragamu nyaris sempurna di tiap semester,
               kalo cuma bangun dari kursi aja sempoyongan, berarti
               ada yang gak beres kan ?”
               “Okelah kalo begitu.” Kataku sambil bercanda
               “Sebenernya kamu sakit apa sih ?”
               “Entahlah.”
               Di tengah perjalanan, tanganku mulai mati rasa, dan aku mulai gak bisa ngerasain kakiku. Spontan aja aku kehilangan keseimbangan terus jatuh, untung jatuhnya gak nimpa Rebecca, coba aja sampai kejadian, kasian dia, udah dijauhin temen-temen gara-gara kutu buku ditambah tertangkap basah bermesraan denganku.
               “Hanz, hey sadar ! Hanz, bangun ! Tolong !!!” suara Rebecca mulai gak terdengar.

*

               Selama beberapa saat, terlihat samar-samar ada beberapa orang yang membawaku ke suatu tempat, keliatannya rumah sakit, setelah itu aku kehilangan kesadaran selama beberapa jam. Dalam kondisi setengah sadar aku melihat papa sedang berbicara dengan Rebecca, mungkin dia menjelaskan siapa aku sebenarnya, itu bisa kulihat dari raut mukanya yang terlihat shock. Meskipun begitu dia mencoba mengatakan sesuatu padaku.
               “Hanz... aku tau siapa kamu sebenarnya, gak usah khawatir
               buatku kamu temen terbaikku yang gak tergantikan.”
               “Becca, maaf sudah bikin kamu repot.” Batinku
               “Cepet sembuh nanti kalo kamu sudah sembuh ceritain
               soal vampire ya. A... nggu....oh...” suaranya mulai terdengar samar-samar
               Semuanya jadi gelap, sepi, dan aku gak bisa ngerasain ataupun menggerakkan sejengkalpun bagian tubuhku. Apa aku mati ya ? Pertanyaan itu terus bergema di kepalaku selama beberapa hari, minggu, mungkin sudah berbulan-bulan, sangat lama sampai aku mulai kehilangan kewarasanku, menyalahkan semuanya, hingga suatu saat akhirnya aku bisa menenangkan pikiranku dan mengembalikkan kewarasanku. Tahun demi tahun berlalu, meskipun tubuhku gak menua, secara bertahap pikiranku mulai berkembang menjadi lebih dewasa, dan hari ini, 20 agustus 2015 aku terbangun dari kegelapan itu.

Monday, October 7, 2013

Ookami Quote 8 Okt 2013

Chiwa, minna

Hehe
berhari-hari ga nge-post
*menciut

A-anyway,
Ookami quote of the day
"Profesionalitas tidak bisa menggantikan cinta
karena itu
masakan seorang Ibu itu selalu nomer satu dihati anaknya"

Ookami
\(XuO;)/

Thursday, October 3, 2013

Ookami Quote 3 Oktober 2013

Konbanwa Minna \(XuO )/

gimana fanfic buatan Ookami ?
keren kan ?

anyway, semua sehat kan ?
yang sakit, cepet sembuh
yang susah, tetep berjuang, pasti ada hasilnya (Xu-- )9 ganbarimasu
yang galau, Tuhan selalu punya rencana kok
yang ga bener, aneh" dsb, kalian sebangsa dengan Ookami (Xu<) [loh ?]

Ookami Quote of the day
"Pedang yang kuat
pasti dipanaskan dan
dipukul ribuan-jutaan kali
dengan begitu kilauannya
dan ketajamannya pasti terlihat"

Be strong
Be faithful
'coz God is never sleep
Ookami
(XuO)/

Bloodlines of Supernatural



PROLOG


          “Kulihat kamu sudah sadar, vampire” kata seorang gadis di samping tempat tidurku
          “Enak banget manggil vampire, namaku Johann Zeamermann”
          “Terus aku harus bilang wow gitu ?”
          “Terserah, bisa kasih tau tanggal, bulan, tahun ?” tanyaku dingin
          “20 agustus 2015” jawabnya sambil membaca buku
          Hmm, sepertinya aku udah tidur cukup lama. Hampir lima setengah tahun aku mengalami koma karena penyakit yang misterius, dan hari ini aku tersadar. Lima tahun, mungkin buat vampire murni (immortal, haus darah, dsb) itu ibarat satu kedipan mata, tapi buat setengah vampire, itu bener-bener waktu yang lama. Kira-kira apa yang terjadi sama ortu, kondisi rumah, temen yang lain ? Berhubung aku gak ada ide mau bicara apa, mungkin gak ada salahnya cerita masa lalu sama cewek ini.