New Home
Sepanjang
perjalanan, aku berusaha membiasakan diri dengan perubahan jaman, dan
HP baru ini. Baru beberapa menit, ada sms yang masuk. Nama
pengirimnya kosong, tapi kal diliat dari isinya pasti yang ngirim
papa/mama beberapa tahun yang lalu.
“Ini
nomer rekeningmu : 94165468, passwordnya : 135846. Gunakan dengan
bijak, dan
semoga ini cukup sampai kamu tamat kuliah nanti. Soal berkas-
berkasmu
semuanya sudah kuatur dan kutitipkan ke orang yang kupercaya.”
Orang yang
kupercaya, siapa ya ? Daripada mikir lama-lama mending langsung aja
ke “rumah baru”. Sesampainya di sana, dari depan keliatan kaya
rumah biasa, ukuran sedang, cat gak mencolok, dan lain-lain. Walaupun
dari luar keliatan biasa, di dalem interiornya juga biasa aja, yang
gak biasa cuma anggota keluarganya. Agatha langsung di sambut oleh
ayahnya.
“Agatha,
tumben pulang lebih awal. Ah, kamu pasti Johann.” Kata ayah Agatha
“Johann
Zeamermann, senang bertemu dengan anda, Tuan..”kataku sambil
berjabat
tangan dengan “ayah asuhku”
“Adrian
Tristan, gak usah terlalu formal, relax dude !”
Dude ?
Harus kuakui, ayah asuhku lebih up-to-date daripada papa. Setelah
perkenalan singkat, ayah menunjukkan kamar yang akan kugunakan
sementara waktu. Ruangannya sedang, ada tempat tidur, meja belajar,
dan satu lagi, jendela. Di meja belajarnya ada berkas-berkasku,
ijasah SD,SMP, dan SMA, keliatannya maksud mama “diurus” itu
diganti tanggalnya, hanya SD dan SMP saja, sementara SMA gak berubah,
pasti ada alasan yang cukup masuk akal. Akupun segera meminjam
catatan milik Agatha, ternyata materi yang diajarkan setingkat SMA
kelas tiga pada jamanku, berarti mau gak mau aku harus mengulang.
Anehnya, sedikitpun aku gak merasakan malu, mungkin karena
bertahun-tahun kulewati sendiri dalam kegelapan.
*
Malamnya,
Agatha membuat cream soup. Meskipun baru tinggal sebentar, aku tau
kalau ibunya sudah lama meninggal, itu menjelaskan kenapa sifatnya
menyebalkan. Di saat makan malam, ayah menanyakan apa yang akan
kulakukan setelahnya, kukatakan saja aku gak punya rencanya
kedepannya mau apa. Selain itu aku juga menanyakan, apakah darah
vampire memang bisa digunakan untuk menulis mantra. Jawabannya memang
cukup mengejutkan, memang bisa untuk menulis mantra, tapi gak ada
efeknya, alias sia-sia. Tapi sebelum Agatha sempat menembakkan Ignis
lancea-nya, Ayah menjelaskan kalau dia dan papa dulu teman
seperjuangan dan sepenanggungan, jadi ayah yang akan mengasuhku kalau
terjadi sesuatu pada papa dan sebaliknya. Sebagai tambahan, dari dulu
Ayah pengen banget punya anak laki-laki.
Setelah
makan malam, aku mendapat tugas untuk mencuci piring dan alat makan.
Karena gak ada kerjaan lain, mungkin waktunya istirahat. Sebelum aku
sempat masuk ke kamar, Agatha mencegatku di depan pintu, semoga aja
ini bukan soal kutukan bo’ongan.
“Aku tau
kita emang gak gitu akrab, mulai sekarang kucoba
untuk
merubah sikapku.” Kataku memulai pembicaraan.
“Kuanggap
kejadian hari ini gak pernah ada.” Jawabnya dingin
“Thanks
kalo gitu.”
“Tapi
inget, jangan macem-macem kalo masih niat hidup !” katanya mengancam.
Lagian
siapa juga yang niat macem-macem ? Sudah sekian lama sejak aku bicara
dengan orang lain, makan, dll. Besok ada hari kehidupan baru yang
harus kujalani.

No comments:
Post a Comment