Tuesday, November 12, 2013

Bloodlines of Supernatural (3rd Phase)



3rd Phase
New Home


          Sepanjang perjalanan, aku berusaha membiasakan diri dengan perubahan jaman, dan HP baru ini. Baru beberapa menit, ada sms yang masuk. Nama pengirimnya kosong, tapi kal diliat dari isinya pasti yang ngirim papa/mama beberapa tahun yang lalu.
          “Ini nomer rekeningmu : 94165468, passwordnya : 135846. Gunakan dengan
          bijak, dan semoga ini cukup sampai kamu tamat kuliah nanti. Soal berkas-
          berkasmu semuanya sudah kuatur dan kutitipkan ke orang yang kupercaya.”

          Orang yang kupercaya, siapa ya ? Daripada mikir lama-lama mending langsung aja ke “rumah baru”. Sesampainya di sana, dari depan keliatan kaya rumah biasa, ukuran sedang, cat gak mencolok, dan lain-lain. Walaupun dari luar keliatan biasa, di dalem interiornya juga biasa aja, yang gak biasa cuma anggota keluarganya. Agatha langsung di sambut oleh ayahnya.
          “Agatha, tumben pulang lebih awal. Ah, kamu pasti Johann.” Kata ayah Agatha
          “Johann Zeamermann, senang bertemu dengan anda, Tuan..”kataku sambil
          berjabat tangan dengan “ayah asuhku”
          “Adrian Tristan, gak usah terlalu formal, relax dude !”
          Dude ? Harus kuakui, ayah asuhku lebih up-to-date daripada papa. Setelah perkenalan singkat, ayah menunjukkan kamar yang akan kugunakan sementara waktu. Ruangannya sedang, ada tempat tidur, meja belajar, dan satu lagi, jendela. Di meja belajarnya ada berkas-berkasku, ijasah SD,SMP, dan SMA, keliatannya maksud mama “diurus” itu diganti tanggalnya, hanya SD dan SMP saja, sementara SMA gak berubah, pasti ada alasan yang cukup masuk akal. Akupun segera meminjam catatan milik Agatha, ternyata materi yang diajarkan setingkat SMA kelas tiga pada jamanku, berarti mau gak mau aku harus mengulang. Anehnya, sedikitpun aku gak merasakan malu, mungkin karena bertahun-tahun kulewati sendiri dalam kegelapan.

*

          Malamnya, Agatha membuat cream soup. Meskipun baru tinggal sebentar, aku tau kalau ibunya sudah lama meninggal, itu menjelaskan kenapa sifatnya menyebalkan. Di saat makan malam, ayah menanyakan apa yang akan kulakukan setelahnya, kukatakan saja aku gak punya rencanya kedepannya mau apa. Selain itu aku juga menanyakan, apakah darah vampire memang bisa digunakan untuk menulis mantra. Jawabannya memang cukup mengejutkan, memang bisa untuk menulis mantra, tapi gak ada efeknya, alias sia-sia. Tapi sebelum Agatha sempat menembakkan Ignis lancea-nya, Ayah menjelaskan kalau dia dan papa dulu teman seperjuangan dan sepenanggungan, jadi ayah yang akan mengasuhku kalau terjadi sesuatu pada papa dan sebaliknya. Sebagai tambahan, dari dulu Ayah pengen banget punya anak laki-laki.

          Setelah makan malam, aku mendapat tugas untuk mencuci piring dan alat makan. Karena gak ada kerjaan lain, mungkin waktunya istirahat. Sebelum aku sempat masuk ke kamar, Agatha mencegatku di depan pintu, semoga aja ini bukan soal kutukan bo’ongan.
          “Aku tau kita emang gak gitu akrab, mulai sekarang kucoba
          untuk merubah sikapku.” Kataku memulai pembicaraan.
          “Kuanggap kejadian hari ini gak pernah ada.” Jawabnya dingin
          “Thanks kalo gitu.”
          “Tapi inget, jangan macem-macem kalo masih niat hidup !” katanya mengancam.
          Lagian siapa juga yang niat macem-macem ? Sudah sekian lama sejak aku bicara dengan orang lain, makan, dll. Besok ada hari kehidupan baru yang harus kujalani.

No comments:

Post a Comment