4th Phase
New Life
Hari ini
adalah awal baru bagiku, saatnya aku mengulang semua hal yang pernah
kupelajari. Untuk itu aku memutuskan untuk memilih sekolah yang baru,
SMA A04. Di tengah perjalanan, gak ada yang mengira umurku
(seharusnya) 22 tahun. Akupun dengan mudah melenggang kesana kemari
tanpa ada yang curiga. Daripada buang-buang waktu, aku segera ke
kantor kepsek.
Sementara
itu di sekolah yang sama, ruangan yang berbeda. Seorang bapak guru
masuk ke kelas X(sepuluh) membawa berita yang cukup menghebohkan.
“Anak-anak,
seorang murid baru akan ditempatkan di kelas kita.”
“Kira-kira
seperti apa ya anak baru ini ?” batin Agatha.
*tok tok
tok* suara ketukan di pintu mengubah suasana kelas yang tadinya
seperti pasar menjadi hening seperti kuburan. Langsung saja pak guru
membuka pintu itu dan mengajak seseorang yang tampak asing masuk ke
dalam kelas.
“Anak-anak,
perkenalkan ini teman kita yang mulai hari ini
akan
belajar bersama dengan kita.”
“Namaku
Johann Zeamermann, tapi kalian bisa manggil
aku
Hanz.” Kataku percaya diri
“KAMU
??!!” kata Agatha terkejut sambil menunjukku.
“Ada apa
ya ?” tanyaku pura-pura gak tau
“KENAPA
KAMU BISA ADA DI SINI ??!!” jawabnya masih terkejut.
“Ah,
kamu pasti salah orang, kita kan belum
pernah
bertemu sebelumnya.” Kataku sambil pasang ekspresi cool
Setelah
perkenalan yang cukup mengejutkan, aku segera memilih bangku yang
kosong untuk kupakai selama tahun ajaran ini. Ternyata pesonaku emang
gak pernah ilang, baru beberapa jam jadi murid, di laci mejaku sudah
penuh dengan surat. Isinya cukup beragam sih, ada yang ngajak
kenalan, ngajak maen bareng, ngajak jadian, dll. Sewaktu istirahat
aku memutuskan untuk makan bekal di atap sekolah, sambil makan kubaca
beberapa surat tadi, yang kemungkinan besar pengirimnya pasti cewe.
Awalnya ini makan siang yang tenang, sampai Agatha muncul tiba-tiba,
keliatannya di mulai bosen gara-gara aku jadi “bagian dalam
hidupnya”. Untung moodnya lagi bagus. Tujuannya dia kesini ternyata
buat menjelaskan beberapa peraturan di sekolah ini, mulai dari yang
biasa (dilarang mencuri ini itu), keren(model rambut bebas selama
bisa dipertanggung-jawabkan), dan extreme(semua siswa diijinkan
bertarung tanpa menggunakan senjata api atau senjata tajam). Itu
masuk akal juga sih, karena ramalan kiamat 2012 beneran terjadi,
bukan karena meteor atau musibah, tapi karena peperangan yang
menyebabkan kondisi dunia gak stabil.
Makanya
sejak usia dini, anak-anak ini “dipersiapkan” untuk menghadapi
kondisi terburuk. Karena pertarungan bebas dilegalkan, di sekolah ini
menganut sistem level, tergantung berapa banyak yang dikalahin. Dan
sebagai bonus buat mereka yang levelnya tinggi, mereka dapet satu hak
khusus yang bisa mereka buat sendiri, selama gak berlawanan sama
peraturan sekolah. Belum sempat aku menyelesaikan makan siangku,
muncul lagi sekumpulan orang, keliatannya cuma level rendahan, kalo
level tinggi pasti gak pernah keroyokan. Dari penjelasan Agatha, yang
jadi pemimpin orang-orang ini itu preman paling licik di sekolah.
Berhubung ini gak menarik, aku cuma perlu menjentikkan jari untuk
membuat mereka semua hilang kesadaran.
*ctik*
cukup satu jentikkan jari dan mereka semua pingsan. Awalnya Agatha
gak setuju dengan caraku, tapi karena di peraturan gak ada larangan
penggunaan kekuatan buat supernatural, ya sudah. Meskipun pertarungan
diijinkan, ada beberapa murid yang kontra dengan hal itu, Agatha
salah satunya. Biasanya golongan murid kaya gitu dapet julukan
sendiri, The Aegis, sementara Aegis yang kerjaannya mencegah
anak-anak lain di-bully namanya Hunter. Cukup mengejutkan kalau salah
satu dari sekian Hunter di sekolah ini adalah mantan Ein, petarung
nomer satu di sekolah. Yah setiap orang boleh dapet kesempatan buat
tobat, bahkan preman nomer satu. Supaya aku lebih hati-hati, Agatha
mengirimkan daftar Hunter dan Rogue, sebutan buat mereka yang pro
sama free-fighting, ke Hpku.
“Jaman
yang makin canggih.” Ratapku
“Gak
usah galau gitu deh.” Katanya sambil tersenyum manis
“Galau ?
apaan tuh ?” baru kali ini denger kata galau
“Well,
galau mirip kaya gundah gulana gitu.”
“Oh,
kirain apa.”
Jam
istirahat akhirnya selesai. Waktunya balik ke kelas buat ngelanjutin
pelajaran. Meskipun ini baru hari pertamaku, sudah ada dua guru yang
ngasih ulangan. Gak beda jauh sama yang dulu pernah kukerjakan.
Beberapa jam berlalu dengan cepat, gak kerasa sudah waktunya pulang.
Sebelum pulang ada satu tempat yang ingin kudatangi, perpustakaan.
Sayangnya begitu sampai di depan perpustakaan, pintunya dikunci, dari
informasi yang kudapat, pengurus perpus lagi keluar kota buat nambah
koleksi buku. Ya sudahlah, waktunya pulang.
*
Sepanjang
perjalanan pulang ada satu atau dua kelompok yang berusaha memalakku,
daripada buang-buang tenaga, mending pake Red Snapper. *ctik* dan
cuma butuh satu jentikan jari untuk membasmi mereka semua. Hanya
saja, aku barusan ngerasain kaya lagi diawasi dari jauh. Mungkin udah
cukup bikin masalahnya hari ini, pulang ah.
Sesampainya
di rumah, Agatha langsung ngasih daftar belanja, katanya persediaan
bahan makanan mulai menipis. Untungnya di dekat sini ada minimarket.
Gak terlalu jauh sih, paling cuma 100 meter. Mungkin menjelang
matahari terbenam itu jamnya Rogue berkeliaran, kali ini ada cukup
banyak yang mencegatku. Keliatannya aku mulai membangun reputasi nih.
Sebelum ada seorangpun yang maju, muncul seseorang di belakangku,
sepertinya dia yang mengawasiku sebelumnya.
“Teknikmu
gak akan berguna, mereka terlalu banyak.” Katanya sok
“Oh gitu
ya, kalau gitu aku gak butuh bantuanmu.”
“Sana
duduk manis, dan biarkan profesional beraksi.”
Hunter ini
menarik juga, mungkin aku harus nunjukin kemampuanku. Tanpa sepatah
kata apapun aku maju untuk memulai serangan, sudah dua orang yang
kukalahkan sekali tonjok, orang tadi juga gak mau ketinggalan, dia
juga ikut menghajar beberapa orang. Setidaknya ada satu atau dua
pukulan yang berhasil mengenaiku, sementara sisanya bisa kuhindari.
Tapi orang itu berbeda, dia menerima setiap pukulan itu dan yang
lebih aneh lagi dia memukul lebih keras daripada para Rogue ini.
Setelah beberapa menit yang keras, semuanya gak sadarkan diri, hanya
menyisakan aku dan si Hunter ini. Untung gak ada satupun barang
belanjaanku yang hilang, tanpa membuang lebih banyak waktu lagi, aku
segera pulang. Sampai dirumah,malah dapet hujan pertanyaan. Ternyata
selama aku lagi diluar ayah tetap mengawasiku dengan kemampuan
warlocknya.
“Kenapa
lama sekali ?” tanya ayah
“Tadi
ada banyak preman, untung tadi ada Hunter yang nolongin.”
“Sudah
lihat rangkingmu ?”
“Rangking
apa ?” aku balik nanya
“Levelmu.”
Jawab Ayah dingin
Aku segera
mengeceknya di aplikasi yang dikasih Agatha. Ternyata aku sudah level
C. Seharusnya untuk anak baru, levelku E, tapi aku sudah level C
gara-gara kejadian hari ini. Aturan naik level, mengalahkan sejumlah
orang atau duel dengan orang yang selevel atau lebih tinggi. Pasti
ayah mau marah besar nih.
“Hanz.”
Katanya dingin.
“Iya
ayah ?”
“Mulai
sekarang kamu harus hati-hati.” Katanya santai
“...”
aku jadi speechless
“Kalau
kamu pulang babak belur, jangan harap ada makan malam.” Candanya
Moodnya
ayah emang gak bisa ditebak. Pembicaraan gak jelas ini diakhiri
dengan makan malam.
No comments:
Post a Comment