Tuesday, November 12, 2013

Bloodlines of Supernatural (4th Phase)


4th Phase
New Life


          Hari ini adalah awal baru bagiku, saatnya aku mengulang semua hal yang pernah kupelajari. Untuk itu aku memutuskan untuk memilih sekolah yang baru, SMA A04. Di tengah perjalanan, gak ada yang mengira umurku (seharusnya) 22 tahun. Akupun dengan mudah melenggang kesana kemari tanpa ada yang curiga. Daripada buang-buang waktu, aku segera ke kantor kepsek.

          Sementara itu di sekolah yang sama, ruangan yang berbeda. Seorang bapak guru masuk ke kelas X(sepuluh) membawa berita yang cukup menghebohkan.
          “Anak-anak, seorang murid baru akan ditempatkan di kelas kita.”
          “Kira-kira seperti apa ya anak baru ini ?” batin Agatha.
          *tok tok tok* suara ketukan di pintu mengubah suasana kelas yang tadinya seperti pasar menjadi hening seperti kuburan. Langsung saja pak guru membuka pintu itu dan mengajak seseorang yang tampak asing masuk ke dalam kelas.
          “Anak-anak, perkenalkan ini teman kita yang mulai hari ini
          akan belajar bersama dengan kita.”
          “Namaku Johann Zeamermann, tapi kalian bisa manggil
          aku Hanz.” Kataku percaya diri
          “KAMU ??!!” kata Agatha terkejut sambil menunjukku.
          “Ada apa ya ?” tanyaku pura-pura gak tau
          “KENAPA KAMU BISA ADA DI SINI ??!!” jawabnya masih terkejut.
          “Ah, kamu pasti salah orang, kita kan belum
          pernah bertemu sebelumnya.” Kataku sambil pasang ekspresi cool
          Setelah perkenalan yang cukup mengejutkan, aku segera memilih bangku yang kosong untuk kupakai selama tahun ajaran ini. Ternyata pesonaku emang gak pernah ilang, baru beberapa jam jadi murid, di laci mejaku sudah penuh dengan surat. Isinya cukup beragam sih, ada yang ngajak kenalan, ngajak maen bareng, ngajak jadian, dll. Sewaktu istirahat aku memutuskan untuk makan bekal di atap sekolah, sambil makan kubaca beberapa surat tadi, yang kemungkinan besar pengirimnya pasti cewe. Awalnya ini makan siang yang tenang, sampai Agatha muncul tiba-tiba, keliatannya di mulai bosen gara-gara aku jadi “bagian dalam hidupnya”. Untung moodnya lagi bagus. Tujuannya dia kesini ternyata buat menjelaskan beberapa peraturan di sekolah ini, mulai dari yang biasa (dilarang mencuri ini itu), keren(model rambut bebas selama bisa dipertanggung-jawabkan), dan extreme(semua siswa diijinkan bertarung tanpa menggunakan senjata api atau senjata tajam). Itu masuk akal juga sih, karena ramalan kiamat 2012 beneran terjadi, bukan karena meteor atau musibah, tapi karena peperangan yang menyebabkan kondisi dunia gak stabil.


          Makanya sejak usia dini, anak-anak ini “dipersiapkan” untuk menghadapi kondisi terburuk. Karena pertarungan bebas dilegalkan, di sekolah ini menganut sistem level, tergantung berapa banyak yang dikalahin. Dan sebagai bonus buat mereka yang levelnya tinggi, mereka dapet satu hak khusus yang bisa mereka buat sendiri, selama gak berlawanan sama peraturan sekolah. Belum sempat aku menyelesaikan makan siangku, muncul lagi sekumpulan orang, keliatannya cuma level rendahan, kalo level tinggi pasti gak pernah keroyokan. Dari penjelasan Agatha, yang jadi pemimpin orang-orang ini itu preman paling licik di sekolah. Berhubung ini gak menarik, aku cuma perlu menjentikkan jari untuk membuat mereka semua hilang kesadaran.

          *ctik* cukup satu jentikkan jari dan mereka semua pingsan. Awalnya Agatha gak setuju dengan caraku, tapi karena di peraturan gak ada larangan penggunaan kekuatan buat supernatural, ya sudah. Meskipun pertarungan diijinkan, ada beberapa murid yang kontra dengan hal itu, Agatha salah satunya. Biasanya golongan murid kaya gitu dapet julukan sendiri, The Aegis, sementara Aegis yang kerjaannya mencegah anak-anak lain di-bully namanya Hunter. Cukup mengejutkan kalau salah satu dari sekian Hunter di sekolah ini adalah mantan Ein, petarung nomer satu di sekolah. Yah setiap orang boleh dapet kesempatan buat tobat, bahkan preman nomer satu. Supaya aku lebih hati-hati, Agatha mengirimkan daftar Hunter dan Rogue, sebutan buat mereka yang pro sama free-fighting, ke Hpku.
          “Jaman yang makin canggih.” Ratapku
          “Gak usah galau gitu deh.” Katanya sambil tersenyum manis
          “Galau ? apaan tuh ?” baru kali ini denger kata galau
          “Well, galau mirip kaya gundah gulana gitu.”
          “Oh, kirain apa.”
          Jam istirahat akhirnya selesai. Waktunya balik ke kelas buat ngelanjutin pelajaran. Meskipun ini baru hari pertamaku, sudah ada dua guru yang ngasih ulangan. Gak beda jauh sama yang dulu pernah kukerjakan. Beberapa jam berlalu dengan cepat, gak kerasa sudah waktunya pulang. Sebelum pulang ada satu tempat yang ingin kudatangi, perpustakaan. Sayangnya begitu sampai di depan perpustakaan, pintunya dikunci, dari informasi yang kudapat, pengurus perpus lagi keluar kota buat nambah koleksi buku. Ya sudahlah, waktunya pulang.

*

          Sepanjang perjalanan pulang ada satu atau dua kelompok yang berusaha memalakku, daripada buang-buang tenaga, mending pake Red Snapper. *ctik* dan cuma butuh satu jentikan jari untuk membasmi mereka semua. Hanya saja, aku barusan ngerasain kaya lagi diawasi dari jauh. Mungkin udah cukup bikin masalahnya hari ini, pulang ah.

          Sesampainya di rumah, Agatha langsung ngasih daftar belanja, katanya persediaan bahan makanan mulai menipis. Untungnya di dekat sini ada minimarket. Gak terlalu jauh sih, paling cuma 100 meter. Mungkin menjelang matahari terbenam itu jamnya Rogue berkeliaran, kali ini ada cukup banyak yang mencegatku. Keliatannya aku mulai membangun reputasi nih. Sebelum ada seorangpun yang maju, muncul seseorang di belakangku, sepertinya dia yang mengawasiku sebelumnya.
          “Teknikmu gak akan berguna, mereka terlalu banyak.” Katanya sok
          “Oh gitu ya, kalau gitu aku gak butuh bantuanmu.”
          “Sana duduk manis, dan biarkan profesional beraksi.”
          Hunter ini menarik juga, mungkin aku harus nunjukin kemampuanku. Tanpa sepatah kata apapun aku maju untuk memulai serangan, sudah dua orang yang kukalahkan sekali tonjok, orang tadi juga gak mau ketinggalan, dia juga ikut menghajar beberapa orang. Setidaknya ada satu atau dua pukulan yang berhasil mengenaiku, sementara sisanya bisa kuhindari. Tapi orang itu berbeda, dia menerima setiap pukulan itu dan yang lebih aneh lagi dia memukul lebih keras daripada para Rogue ini. Setelah beberapa menit yang keras, semuanya gak sadarkan diri, hanya menyisakan aku dan si Hunter ini. Untung gak ada satupun barang belanjaanku yang hilang, tanpa membuang lebih banyak waktu lagi, aku segera pulang. Sampai dirumah,malah dapet hujan pertanyaan. Ternyata selama aku lagi diluar ayah tetap mengawasiku dengan kemampuan warlocknya.
          “Kenapa lama sekali ?” tanya ayah
          “Tadi ada banyak preman, untung tadi ada Hunter yang nolongin.”
          “Sudah lihat rangkingmu ?”
          “Rangking apa ?” aku balik nanya
          “Levelmu.” Jawab Ayah dingin
          Aku segera mengeceknya di aplikasi yang dikasih Agatha. Ternyata aku sudah level C. Seharusnya untuk anak baru, levelku E, tapi aku sudah level C gara-gara kejadian hari ini. Aturan naik level, mengalahkan sejumlah orang atau duel dengan orang yang selevel atau lebih tinggi. Pasti ayah mau marah besar nih.
          “Hanz.” Katanya dingin.
          “Iya ayah ?”
          “Mulai sekarang kamu harus hati-hati.” Katanya santai
          “...” aku jadi speechless
          “Kalau kamu pulang babak belur, jangan harap ada makan malam.” Candanya
          Moodnya ayah emang gak bisa ditebak. Pembicaraan gak jelas ini diakhiri dengan makan malam.

No comments:

Post a Comment