Tuesday, November 26, 2013

Bloodlines of Supernatural (5th Phase)


5th Phase
Bat, Wolf, Fairy, & Magician


          Keesokan harinya aku berangkat bareng Agatha, gak ada maksud tertentu sih, cuma mau tanya soal perkembangan gadget, di jaman yang makin modern ini cowok keren gak boleh gaptek. Keliatannya hari ini bakal ngebosenin. Tapi fakta berkata lain, saat aku nyoba buat tidur pas istirahat, ada dua orang murid kelas XI yang masuk ke kelas. Seorang cowo & cewe, penampilan si cowo garang, sementara orang yang satunya cantik juga. Merekapun segera menghampiri mejaku, perasaan aku gak buat keributan apapun deh.         
          “Jadi, kamu itu murid baru itu ?” tanya si cowok.
          “Kita gak punya maksud apa-apa kok, namaku Kim, kalo ini Zetsumi Kojiro.” Kata Kim.
          “Yah begitulah, namaku Johann Zeamermann.”
          “Sebaiknya kamu mulai berhati-hati, vampire.” Kata Jiro menyindir
          “Biar kutebak, Werewolf yang suka nge-stalk orang lain ?” tanyaku dengan nada mengejek
          “Hey, kita sesama supernatural harus saling menjaga satu sama lain.” Kata Kim sambil
          memegang pundak Jiro
          “Elf, Kalo kamu mencariku, aku ada di atap.” Kata Jiro sambil berjalan keluar kelas.
          “Maaf kalau sifatnya agak kasar.”
          “Bukan masalah.”
          “Gimana kalo sebagai permintaan maaf, nanti
          Pulang sekolah kita makan bareng ?” tanyanya dengan tatapan genit.
          “No problem.”
          Gara-gara kejadian barusan hilang sudah mood buat tidur, semoga aja hari ini perpustakaan sudah buka. Ternyata perpustakaan masih belum buka, tapi di pintu ada pengumuman.

          “Masih mencari buku.”
          RBC Shimamura

          RBC, kalo gak salah inisial nama Rebecca. Beneran nih ? Becca, jadi pengurus perputakaan ? Itu emang hobinya sih, tapi dia bilang dia pingin jadi penulis sukses. Ternyata tiap orang emang punya jalan hidup masing-masing.

*

          Meskipun kegiatan belajar-mengajar itu mulai jam 8 pagi sampai jam 3, tapi setelah itu ada kegiatan ekstra. Gak heran jam segini masih aja ada anak yang gak pulang ke rumah masing-masing. Termasuk aku, Agatha, Jiro, & Kim. Aku ada “kencan” sama Kim, Jiro pasti lagi asik “berburu”, sementara Agatha ngerjain tugas kelompok bareng temen-temen yang lain. Kim datang terlambat 5 menit, katanya di jalan ada sedikit “hambatan”, buat orang yang gak sadar lima tahun, lima menit jadi gak kerasa. Waktu makan dia minta di suapin, udah gitu duduknya nempel sama aku lagi, keliatannya anak ini lama-lama ngelunjak deh. Spontan aja abis makan aku bilang kalo ada urusan, kebetulan aku keluar bareng sama Agatha. Sepanjang perjalanan pulang, kita cerita satu sama lain, tanya soal ini itu, dan satu lagi soal Kim.
          “Tau gak ?”
          “Apaan ?” dia balik nanya
          “Kim, itu.. hunter yang nemenin Jiro.”
          “Jiro ? Oh Zetsumi Kojiro, dia itu mantan Ein, kalo Kim yang kamu maksud Kim Hyun A, dia
          itu..” jelas Agatha
          “Genit, ramah, hmm imut.” Kataku memotong penjelasan Agatha
          “Elf, Cowok, dan seorang hunter.” Katanya singkat
          “Ciyus ? Tapi dia pake seragam cewe” tanyaku gak percaya
          “Enelan, plus dia hampir ngalahin Jiro kalo dia gak waspada.”
          Sial, anak jaman sekarang emang gak bisa ditebak, ditambah tren bishounen(cowok cantik) udah pasaran. Untuk sesaat aku terdengar kaya kakek-kakek. Lebih sialnya lagi, aku malah diketawain sama Agatha. Liat aku ngambek, diapun mengganti topik pembicaraan dan menawarkanku apakah aku mau... bukan jadi pacarnya atau hubungan kakak-adik, tapi menjadi anggota Aegis. Untuk sementara aku gak minat, mungkin kalau waktunya udah pas, jadi buat jaga-jaga dia ngasih aku kartu member semi-permanen. Katanya kalau terjadi hal yang gawat, patahkan kartu ini. Tapi keadaan gawat itu relatif, gak ada salahnya nyimpen yang beginian, dengan begini kita jadi lebih akrab.

          Keesokan harinya, pengumuman yang ada di depan perpus sudah dihapus, semoga Becca ada, nunggu lama-lama bikin bete. Tanpa membuang lebih banyak waktu, aku segera memasuki perpus. Ini adalah perpus paling luas yang pernah kulihat, selain itu ada banyak fasilitas kaya free wi-fi, ruang ber-AC, dll. Temboknya di cat biru hydrangea, khas warna kesukaan Becca. Yang pasti lebih spesial dibanding perpustakaan sekolahku yang lama. Sewaktu aku asik mencari buku yang ingin kubaca, ada seseorang yang melempar sebuah ensiklopedi ke arahku. Kutangkap aja ensiklopedi 800 halaman itu dengan satu tangan.
          “Ku tunggu loh.” Kata orang tadi
          “Becca ?”
          Becca yang dulu kukenal, masih gak berubah, meskipun dia tambah tinggi beberapa tahun ini, tapi wajah itu cuma berubah sedikit. Setelah melepas kangen, diapun bercerita tentang yang terjadi selama aku gak ada. Beberapa minggu setelah aku koma, Becca sama temen-temen yang lain dapet hasil UN, hasilnya lulus 100% tapi yang dateng ke acara perpisahan cuma 99 % gara-gara satu orang sakit, aku orangnya. Selain itu, dialah yang membuat HP baruku. Katanya saat dia kuliah dia ngambil mata kuliah mekatronik plus programming, pantesan aja kok di HP ini ada instruksi tentang ilmu yang minimal dikuasai setengah Vampire. Sewaktu kutanya penyebab keluargaku dibantai, dia terdiam sejenak, lalu menceritakan kejadian itu.

          Kejadian itu terjadi tiga tahun lalu, saat kondisi dunia gak stabil, kriminalitas meningkat, kondisi seperti itu bikin semua orang jadi nekat. Hampir di semua tempat terjadi kerusuhan, penjarahan, dan perampokan, tak terkecuali di kota ini. Hari itu, saat tahu kondisi mulai memburuk, Becca yang selalu menungguku di rumah sakit diantar pulang oleh papa, tapi karena di jalan situasi lebih berbahaya, Dia terpaksa bersembunyi di rumahku. Untung beberapa hari sebelumnya, Hpku sudah selesai dibuat, tanpa membuang banyak waktu, papa dan Becca menyembunyikannya di basement rumah. Hal yang gak terduga pun terjadi, sekumpulan orang mulai masuk ke dalam dan merampas semuanya, gak cuma itu, mereka menyerang papa, mama dan Becca sampai setengah mati. Pada akhirnya papa menggunakan kemampuannya sebagai vampire murni dengan memakai teknik yang sangat terlarang, Dominus. Papa terpaksa melakukannya untuk menyelamatkan Becca yang sedang sekarat. Sebenarnya Dominus itu menggunakan seluruh darah vampire murni yang bisa menyebabkan vampir itu mati secara permanen untuk membuat sebuah mantra yang bisa menyembuhkan semua luka dengan sangat cepat, sayangnya karena darah papa yang tersisa tinggal dikit, mama memutuskan untuk memberikan rohnya supaya Dominus tetap bereaksi. Meskipun gak seperti yang diharapkan, paling gak dominus sukses membuat Becca bertahan hidup di batas hidup dan mati.

          “Gara-gara aku, kedua orang tuamu..” katanya sambil menitikkan air mata
          “Itu bukan sepenuhnya salahmu, lihat sisi positifnya kita bisa ketemu di tempat ini, kita
          berdua survive, dll.” Jawabku sambil memberinya tissue
          “Hiks, tapi kenapa kamu bisa ada di sekolah ini.”
          “Ijasah SMAku.... gak berlaku.” Jawabku lirih.
          “Enjoy aja.” Balasnya sambil tersenyum geli
          Biasanya perpustakaan ini sering di pake Aegis buat gathering. Jadi mereka biasanya punya kartu peminjaman khusus gara-gara sering kumpul di tempat ini. Sayangnya itu cuma berlaku untuk Aegis non-Hunter, jadi Jiro sama Kim gak bisa dapet. Karena statusnya di sini guru non-permanen, dia berhak memberi hukuman dan reward buat anak-anak yang ada di “wilayah”nya. Dalam kasus ini perpustakaan. Jadi dia minta bantuanku mencari beberapa buku yang hilang karena dipinjam tanpa ijin. Berhubung aku gak ngerti caranya, mungkin nona warlock bisa membantu. Meskipun dia gak keberatan, tapi kalo gak ada info yang jelas rasanya gak mungkin deh, untuk itu aku minta daftar buku apa aja yang masih belum balik.

*

          Meskipun buku yang belum balik ada puluhan tapi itu bukan masalah. Kebetulan Agatha tau siapa orang-orang ini, jadi baru sebentar udah ada sepuluh buku balik. Karena ini gak mungkin dilakukan satu hari, Becca gak ngasih batas waktu, tapi makin banyak yang balik, ada kejutan menungguku. Selama jam pelajaran, aku masih kepikiran soal rewardku, mungkin Kim atau Jiro bisa bantu. Sepulang sekolah, seperti biasa couple ini ada di atap sekolah jadi gak susah nyari mereka. Kalo Kim setuju aja nolongin, tapi Jiro, menurutnya ini buang-buang waktu. Tapi begitu liat ada peminjam non-Aegis, alias Rogue, dia segera menarikku dan Kim untuk mengejar orang ini. Namanya Juan Marco, dari ceritanya Kim, dia ini pimpinan preman yang gangguin aku waktu makan siang dulu.
          “Cih, akhirnya ada alesan buat ngasih pelajaran buat orang ini.” Kata Jiro penuh semangat.
          “Hanz, soal yang kemaren..” tanyanya menggoda
          “Aku gak mau lagi, kamu udah ngerusak mimpi indahku belakangan ini.” Kataku sambil
          berlari.
          Untuk kekuatan fisik, werewolf adalah juaranya, tapi kelemahan werewolf itu ada di stamina. Dengan kata lain, mereka bisa menerima banyak serangan, serangan yang mereka keluarkan juga kuat, tapi sebagai gantinya mereka gak bisa kelamaan make kekuatan mereka. Elf itu gak sekuat werewolf atau sakti kaya warlock, tapi mereka bisa menggunakan lingkungan sebagai senjata, misalnya aja membuat pohon menyerang musuhnya, keren sih walau agak ribet. Sementara Vampire, vampire modern, bukan yang klasik, beberapa mengembangkan teknik untuk menghisap energi kehidupan makhluk di sekitarnya untuk dipakai sebagai cadangan tenaganya, jadi kalau Vampire berantem 1 lawan 1 sama Werewolf, kemungkinan ada yang menang itu nyaris gak ada.

          Pencarian ini membawaku ke tempat yang belum pernah kudatangi sebelumnya, kata Jiro biasanya Rogue level C ke atas sering berkeliaran di Bar ini. Meskpun keliatan kaya bar biasa, ada pengunjung yang mukanya garang, bartender yang cuek, meja yang berantakan, tapi ada satu hal yang gak kusuka dari tempat ini, aroma darah segar, seharusnya si werewolf-otak-kekar (baca : Kojiro) juga bisa mengendusnya. Sepertinya ada yang habis berantem nih. Awalnya Kim bernegosiasi soal mengembalikan buku ini itu dan segala macem, hasilnya ? Kim malah digodain sama seisi Bar. Berikutnya Jiro, tanpa basa basi dia langsung membanting Juan, melemparnya ke dinding, dan mengancamnya untuk mengembalikan buku itu secepatnya. Hasilnya ? Juan tetap di pendiriannya, ditambah kalo dia mati kita juga gak tau di mana buku itu, padahal buku itu termasuk jenis langka. Mungkin aku bisa ngetes teknik baru, Overlord. Aku cukup menatap mata Juan dalam-dalam, dan membuatnya mengikuti semua perintahku. Daripada membuang lebih banyak waktu, dia kuperintahkan nunjukin dimana dia simpan buku itu, dan itu berhasil. Ternyata selama ini bukunya disembunyikan di rumahnya.

*

          “Gimana, masih kurang banyak ?” tanyaku sambil mengembalikan setumpuk buku
          “Menakjubkan.” Jawab Becca sambil menghitung semua buku-buku itu.
          “Anyway, kita juga dapet bonus kan ?” tanya Kim penuh harap
          “Sudah pasti, kalian kan temannya Hanz.”
          Meskipun baru 12 yang balik ditambah 1 buku langka, Becca tetap ngasih kita reward. [Limited Edition] borrower pass buatku, dan [Reguler] borrower pass buat Jiro dan Kim. Meskipun kesannya pilih-pilih, tapi masuk akal juga sih. Awalnya Jiro menolak mentah-mentah, tapi abis diceritain kalo di salah satu rak di perpustakaan ini ada panduan tentang menghadapi puluhan orang di saat yang bersamaan, Jiro langsung semangat kaya abis liat bulan purnama. Borrower pass itu semacam program yang dipake kalo misalnya kita pinjem buku di perpus, cukup scan barcode yang ada di buku, nanti data peminjamannya langsung masuk ke server perpustakaan. Yang bikin borrower pass-ku spesial itu limited edition, selain user ID yang khusus ditambah desainnya yang... imut. Ini pertama kalinya sepanjang sejarah SMA A04 ada hunter(Jiro & Kim) yang dikasih borrower pass. Mungkin ini waktu paling pas buat nepatin janjiku ke Becca lima tahun lalu...

Tuesday, November 12, 2013

Refleksi

Sudah beberapa bulan berlalu
sejak blog ini dibuat

Tapi...
update-nya ga tentu
susah sih buat ngatur waktu
sekolah, praktek, bikin novel, dll.

[sekarang waktunya serius]
Hah, ga kerasa sudah hampir tiga tahun
aku sekolah di STM Mikael. Dari anak
yang ga ngerti mesin, sekarang sudah
main mesin[milling, bubut, etc]

Ga cuma soal mesin, tapi kita juga diajari
cara menjadi orang yang berkarakter bagi
sesama. Jadi ahli mesin yang punya jiwa sosial.

Tiga tahun, huh ? Di sekolah yang isinya anak
cowo dari berbagai macam tempat. Ga seperti
yang orang lain pikir, kita sih enjoy aja. Walaupun
terkadang nyesek kalau liat anak SMA heterogen.
Tapi mentalitasnya belum tentu kuat.

Praktek di bawah tekanan, jadwal yang kejar-kejaran,
pemandangan yang sama[cowo disana sini], itulah
yang kuhadapi selama tiga tahun ini. Tapi aku surive,
semuanya surive, karena kita semua punya tujuan
masa depan yang ingin diraih.

Mungkin itu aja
[refleksi itu ga segampang kelihatannya]

Ookami
( Xu<)/

Another Curhat Session

Wah ga kerasa sudah November
Sebentar lagi natal dan tahun baru

Okeey, Admin tau pasti banyak yang protes
"Wooy update novelnya lama amat ?!!"
"Blog apaan nih ?! Kaya kuburan !"

Ookami cuma mau bilang
"Maap, sibuk menghadapi ujian."

Mungkin, nanti ada waktunya Ookami
bisa fokus ngurus blog...
[ngurus Blog seorang diri itu tantangan]
sampai waktunya tiba,
Ookami mau fokus buat ujian
(dan bikin novel tentunya)

that's all
Thx for reading "Bloodlines of Supernatural"

Ookami
( Xu--)9

Bloodlines of Supernatural (4th Phase)


4th Phase
New Life


          Hari ini adalah awal baru bagiku, saatnya aku mengulang semua hal yang pernah kupelajari. Untuk itu aku memutuskan untuk memilih sekolah yang baru, SMA A04. Di tengah perjalanan, gak ada yang mengira umurku (seharusnya) 22 tahun. Akupun dengan mudah melenggang kesana kemari tanpa ada yang curiga. Daripada buang-buang waktu, aku segera ke kantor kepsek.

          Sementara itu di sekolah yang sama, ruangan yang berbeda. Seorang bapak guru masuk ke kelas X(sepuluh) membawa berita yang cukup menghebohkan.
          “Anak-anak, seorang murid baru akan ditempatkan di kelas kita.”
          “Kira-kira seperti apa ya anak baru ini ?” batin Agatha.
          *tok tok tok* suara ketukan di pintu mengubah suasana kelas yang tadinya seperti pasar menjadi hening seperti kuburan. Langsung saja pak guru membuka pintu itu dan mengajak seseorang yang tampak asing masuk ke dalam kelas.
          “Anak-anak, perkenalkan ini teman kita yang mulai hari ini
          akan belajar bersama dengan kita.”
          “Namaku Johann Zeamermann, tapi kalian bisa manggil
          aku Hanz.” Kataku percaya diri
          “KAMU ??!!” kata Agatha terkejut sambil menunjukku.
          “Ada apa ya ?” tanyaku pura-pura gak tau
          “KENAPA KAMU BISA ADA DI SINI ??!!” jawabnya masih terkejut.
          “Ah, kamu pasti salah orang, kita kan belum
          pernah bertemu sebelumnya.” Kataku sambil pasang ekspresi cool
          Setelah perkenalan yang cukup mengejutkan, aku segera memilih bangku yang kosong untuk kupakai selama tahun ajaran ini. Ternyata pesonaku emang gak pernah ilang, baru beberapa jam jadi murid, di laci mejaku sudah penuh dengan surat. Isinya cukup beragam sih, ada yang ngajak kenalan, ngajak maen bareng, ngajak jadian, dll. Sewaktu istirahat aku memutuskan untuk makan bekal di atap sekolah, sambil makan kubaca beberapa surat tadi, yang kemungkinan besar pengirimnya pasti cewe. Awalnya ini makan siang yang tenang, sampai Agatha muncul tiba-tiba, keliatannya di mulai bosen gara-gara aku jadi “bagian dalam hidupnya”. Untung moodnya lagi bagus. Tujuannya dia kesini ternyata buat menjelaskan beberapa peraturan di sekolah ini, mulai dari yang biasa (dilarang mencuri ini itu), keren(model rambut bebas selama bisa dipertanggung-jawabkan), dan extreme(semua siswa diijinkan bertarung tanpa menggunakan senjata api atau senjata tajam). Itu masuk akal juga sih, karena ramalan kiamat 2012 beneran terjadi, bukan karena meteor atau musibah, tapi karena peperangan yang menyebabkan kondisi dunia gak stabil.


          Makanya sejak usia dini, anak-anak ini “dipersiapkan” untuk menghadapi kondisi terburuk. Karena pertarungan bebas dilegalkan, di sekolah ini menganut sistem level, tergantung berapa banyak yang dikalahin. Dan sebagai bonus buat mereka yang levelnya tinggi, mereka dapet satu hak khusus yang bisa mereka buat sendiri, selama gak berlawanan sama peraturan sekolah. Belum sempat aku menyelesaikan makan siangku, muncul lagi sekumpulan orang, keliatannya cuma level rendahan, kalo level tinggi pasti gak pernah keroyokan. Dari penjelasan Agatha, yang jadi pemimpin orang-orang ini itu preman paling licik di sekolah. Berhubung ini gak menarik, aku cuma perlu menjentikkan jari untuk membuat mereka semua hilang kesadaran.

          *ctik* cukup satu jentikkan jari dan mereka semua pingsan. Awalnya Agatha gak setuju dengan caraku, tapi karena di peraturan gak ada larangan penggunaan kekuatan buat supernatural, ya sudah. Meskipun pertarungan diijinkan, ada beberapa murid yang kontra dengan hal itu, Agatha salah satunya. Biasanya golongan murid kaya gitu dapet julukan sendiri, The Aegis, sementara Aegis yang kerjaannya mencegah anak-anak lain di-bully namanya Hunter. Cukup mengejutkan kalau salah satu dari sekian Hunter di sekolah ini adalah mantan Ein, petarung nomer satu di sekolah. Yah setiap orang boleh dapet kesempatan buat tobat, bahkan preman nomer satu. Supaya aku lebih hati-hati, Agatha mengirimkan daftar Hunter dan Rogue, sebutan buat mereka yang pro sama free-fighting, ke Hpku.
          “Jaman yang makin canggih.” Ratapku
          “Gak usah galau gitu deh.” Katanya sambil tersenyum manis
          “Galau ? apaan tuh ?” baru kali ini denger kata galau
          “Well, galau mirip kaya gundah gulana gitu.”
          “Oh, kirain apa.”
          Jam istirahat akhirnya selesai. Waktunya balik ke kelas buat ngelanjutin pelajaran. Meskipun ini baru hari pertamaku, sudah ada dua guru yang ngasih ulangan. Gak beda jauh sama yang dulu pernah kukerjakan. Beberapa jam berlalu dengan cepat, gak kerasa sudah waktunya pulang. Sebelum pulang ada satu tempat yang ingin kudatangi, perpustakaan. Sayangnya begitu sampai di depan perpustakaan, pintunya dikunci, dari informasi yang kudapat, pengurus perpus lagi keluar kota buat nambah koleksi buku. Ya sudahlah, waktunya pulang.

*

          Sepanjang perjalanan pulang ada satu atau dua kelompok yang berusaha memalakku, daripada buang-buang tenaga, mending pake Red Snapper. *ctik* dan cuma butuh satu jentikan jari untuk membasmi mereka semua. Hanya saja, aku barusan ngerasain kaya lagi diawasi dari jauh. Mungkin udah cukup bikin masalahnya hari ini, pulang ah.

          Sesampainya di rumah, Agatha langsung ngasih daftar belanja, katanya persediaan bahan makanan mulai menipis. Untungnya di dekat sini ada minimarket. Gak terlalu jauh sih, paling cuma 100 meter. Mungkin menjelang matahari terbenam itu jamnya Rogue berkeliaran, kali ini ada cukup banyak yang mencegatku. Keliatannya aku mulai membangun reputasi nih. Sebelum ada seorangpun yang maju, muncul seseorang di belakangku, sepertinya dia yang mengawasiku sebelumnya.
          “Teknikmu gak akan berguna, mereka terlalu banyak.” Katanya sok
          “Oh gitu ya, kalau gitu aku gak butuh bantuanmu.”
          “Sana duduk manis, dan biarkan profesional beraksi.”
          Hunter ini menarik juga, mungkin aku harus nunjukin kemampuanku. Tanpa sepatah kata apapun aku maju untuk memulai serangan, sudah dua orang yang kukalahkan sekali tonjok, orang tadi juga gak mau ketinggalan, dia juga ikut menghajar beberapa orang. Setidaknya ada satu atau dua pukulan yang berhasil mengenaiku, sementara sisanya bisa kuhindari. Tapi orang itu berbeda, dia menerima setiap pukulan itu dan yang lebih aneh lagi dia memukul lebih keras daripada para Rogue ini. Setelah beberapa menit yang keras, semuanya gak sadarkan diri, hanya menyisakan aku dan si Hunter ini. Untung gak ada satupun barang belanjaanku yang hilang, tanpa membuang lebih banyak waktu lagi, aku segera pulang. Sampai dirumah,malah dapet hujan pertanyaan. Ternyata selama aku lagi diluar ayah tetap mengawasiku dengan kemampuan warlocknya.
          “Kenapa lama sekali ?” tanya ayah
          “Tadi ada banyak preman, untung tadi ada Hunter yang nolongin.”
          “Sudah lihat rangkingmu ?”
          “Rangking apa ?” aku balik nanya
          “Levelmu.” Jawab Ayah dingin
          Aku segera mengeceknya di aplikasi yang dikasih Agatha. Ternyata aku sudah level C. Seharusnya untuk anak baru, levelku E, tapi aku sudah level C gara-gara kejadian hari ini. Aturan naik level, mengalahkan sejumlah orang atau duel dengan orang yang selevel atau lebih tinggi. Pasti ayah mau marah besar nih.
          “Hanz.” Katanya dingin.
          “Iya ayah ?”
          “Mulai sekarang kamu harus hati-hati.” Katanya santai
          “...” aku jadi speechless
          “Kalau kamu pulang babak belur, jangan harap ada makan malam.” Candanya
          Moodnya ayah emang gak bisa ditebak. Pembicaraan gak jelas ini diakhiri dengan makan malam.

Bloodlines of Supernatural (3rd Phase)



3rd Phase
New Home


          Sepanjang perjalanan, aku berusaha membiasakan diri dengan perubahan jaman, dan HP baru ini. Baru beberapa menit, ada sms yang masuk. Nama pengirimnya kosong, tapi kal diliat dari isinya pasti yang ngirim papa/mama beberapa tahun yang lalu.
          “Ini nomer rekeningmu : 94165468, passwordnya : 135846. Gunakan dengan
          bijak, dan semoga ini cukup sampai kamu tamat kuliah nanti. Soal berkas-
          berkasmu semuanya sudah kuatur dan kutitipkan ke orang yang kupercaya.”

          Orang yang kupercaya, siapa ya ? Daripada mikir lama-lama mending langsung aja ke “rumah baru”. Sesampainya di sana, dari depan keliatan kaya rumah biasa, ukuran sedang, cat gak mencolok, dan lain-lain. Walaupun dari luar keliatan biasa, di dalem interiornya juga biasa aja, yang gak biasa cuma anggota keluarganya. Agatha langsung di sambut oleh ayahnya.
          “Agatha, tumben pulang lebih awal. Ah, kamu pasti Johann.” Kata ayah Agatha
          “Johann Zeamermann, senang bertemu dengan anda, Tuan..”kataku sambil
          berjabat tangan dengan “ayah asuhku”
          “Adrian Tristan, gak usah terlalu formal, relax dude !”
          Dude ? Harus kuakui, ayah asuhku lebih up-to-date daripada papa. Setelah perkenalan singkat, ayah menunjukkan kamar yang akan kugunakan sementara waktu. Ruangannya sedang, ada tempat tidur, meja belajar, dan satu lagi, jendela. Di meja belajarnya ada berkas-berkasku, ijasah SD,SMP, dan SMA, keliatannya maksud mama “diurus” itu diganti tanggalnya, hanya SD dan SMP saja, sementara SMA gak berubah, pasti ada alasan yang cukup masuk akal. Akupun segera meminjam catatan milik Agatha, ternyata materi yang diajarkan setingkat SMA kelas tiga pada jamanku, berarti mau gak mau aku harus mengulang. Anehnya, sedikitpun aku gak merasakan malu, mungkin karena bertahun-tahun kulewati sendiri dalam kegelapan.

*

          Malamnya, Agatha membuat cream soup. Meskipun baru tinggal sebentar, aku tau kalau ibunya sudah lama meninggal, itu menjelaskan kenapa sifatnya menyebalkan. Di saat makan malam, ayah menanyakan apa yang akan kulakukan setelahnya, kukatakan saja aku gak punya rencanya kedepannya mau apa. Selain itu aku juga menanyakan, apakah darah vampire memang bisa digunakan untuk menulis mantra. Jawabannya memang cukup mengejutkan, memang bisa untuk menulis mantra, tapi gak ada efeknya, alias sia-sia. Tapi sebelum Agatha sempat menembakkan Ignis lancea-nya, Ayah menjelaskan kalau dia dan papa dulu teman seperjuangan dan sepenanggungan, jadi ayah yang akan mengasuhku kalau terjadi sesuatu pada papa dan sebaliknya. Sebagai tambahan, dari dulu Ayah pengen banget punya anak laki-laki.

          Setelah makan malam, aku mendapat tugas untuk mencuci piring dan alat makan. Karena gak ada kerjaan lain, mungkin waktunya istirahat. Sebelum aku sempat masuk ke kamar, Agatha mencegatku di depan pintu, semoga aja ini bukan soal kutukan bo’ongan.
          “Aku tau kita emang gak gitu akrab, mulai sekarang kucoba
          untuk merubah sikapku.” Kataku memulai pembicaraan.
          “Kuanggap kejadian hari ini gak pernah ada.” Jawabnya dingin
          “Thanks kalo gitu.”
          “Tapi inget, jangan macem-macem kalo masih niat hidup !” katanya mengancam.
          Lagian siapa juga yang niat macem-macem ? Sudah sekian lama sejak aku bicara dengan orang lain, makan, dll. Besok ada hari kehidupan baru yang harus kujalani.