Sleep
Mari kita mundur ke
lima tahun lalu, waktu semuanya masih normal, kurang lebih. Seperti
keluarga besar pada umumnya, kalau ada satu yang menjadi aib pasti
akan diusir dari keluarga itu. Dan hal itu terjadi pada papa, cuma
gara-gara dia menikah sama mama yang notabene cuma orang biasa, lebih
tepatnya manusia biasa. Tapi liat sisi positifnya, aku mewarisi
kekuatan vampire murni, meskipun gak semuanya (kekuatan manusia
super, regenerasi cepet, penuaan melambat), plus karena mama itu
manusia biasa, aku gak akan lemes meskipun dijemur di bawah sinar
matahari, disiram air suci, salib, dan satu lagi bawang putih.
Sekarang aku kelas 3 SMA, untuk ukuran cowok, aku termasuk populer di
kalangan cewek-cewek. Kata mereka aku itu cool, ganteng, misterius,
dll. Minggu lalu ujian nasional, cuma tinggal nunggu hasilnya, semoga
aja diatas rata-rata. Masa cowok cuma modal tampang doang, gak banget
kan ? Tapi sejak ujian kemaren, rasanya ada yang gak beres sama
badanku, rasanya kadang-kadang lemes, pusing, trus katanya
temen-temen sekelas, aku jalan kaya orang mabuk. Jangan-jangan... aku
positif... anemia. Itu gak mungkin, mana ada vampire anemia. Dari
kecil (setengah vampire juga pernah jadi anak kecil, gak cuma manusia
aja) perasaan aku gak pernah sakit deh, paling cuma flu, masuk angin
(menyedihkan), mungkin papa tau apa yang harus kulakukan.
Untungnya
papa seorang dokter, semoga aja dia tau apa yang salah dengan
tubuhku. Sepulang sekolah langsung aja, aku pergi ke kliniknya.
“Pap, pengen ganggu
boleh gak ?”
“Gak biasanya kamu
main ke sini, ada apa ? Sukses nembak cewek ?
ditolak
?” kata papa sambil bercanda
Papa boleh saja vampire
murni, tapi dia berhasil menahan keinginannya untuk menggigit orang
lain, mungkin itu yang bikin mama terkesan. Selain itu menurut umur
manusia, seharusnya umur papa sudah 50 tahun, tapi keliatan kaya
pertengahan 30 (serius nih). Meskipun posisinya kepala keluarga, tapi
sifatnya yang childish emang gak berubah.
“Pap,
rasanya ada yang gak beres sama badanku.”
“Maksudmu
?”
“Jadi...bla
bla bla(kujelasin panjang x lebar)..., apa ini faktor keturunan ?”
“Aneh,
kasus seperti ini belum pernah terjadi sama vampire manapun.”
“Serius
nih ?” aku jadi makin penasaran.
“Berapa
umurmu ?” papa malah balik nanya.
“17,
ada yang salah ?”
“Kuambil
sampel darahmu, mungkin besok hasilnya keluar” kata papa serius
Gak
biasanya papa bisa seserius ini. Tanpa membuang banyak waktu, papa
langsung ambil jarum suntik dan mengambil sampel darahku. Setelah
itu, aku memutuskan untuk langsung pulang, biasanya kalo pulang telat
mama pasti marah-marah.
*
Dan benar saja, baru
sampe di depan rumah, mama udah nunggu di depan pintu, lengkap dengan
sarung tinju kesayangannya. Meskipun mama cuma manusia biasa, tapi
pukulannya nyeremin banget, papa aja sampai gak berani pulang
seminggu gara-gara ribut sama mama. Mungkin aku harus siap-siap nahan
pukulan mama yang kekuatannya setara sama truk yang ngangkut sapi.
“Maaf,
aku pulang telat gak kasih tau.” Kataku sambil siapin kuda-kuda
“Kamu
ini memang mirip papamu,jangan diulangi lagi ya.” Kata mama sambil mengusap rambutku.
Untung
moodnya mama lagi bagus, coba aja lagi badmood. Buat nebus
kesalahanku, hari ini aku ngerapi’in rumah, bersih-bersih, dsb.
Malam ini papa gak pulang buat nunggu hasil tes sampel darahku. Buat
yang pengen tau sejarah vampire, sini aku jelasin. Pertama tama, yang
namanya energi itu gak bisa dilihat, tapi bisa di rasakan dan ada
pengaruhnya sama manusia. Kedua sel-sel manusia itu bisa mengalami
mutasi kalau terkena (radiasi) energi yang cukup kuat. Kembali ke
topik, jadi dulu sekali, abad pertengahan kalau gak salah, ada
seorang manusia biasa yang terkena semacam energi, sel-sel di
tubuhnya mulai bermutasi, dan tak lama kemudian dia berubah, bukan
jadi power ranger atau kamen rider, apalagi sailor moon, tapi dia
berubah jadi vampire yang pertama. Setelah beberapa generasi, vampire
semakin beradaptasi dengan lingkungan, dan sayangnya mereka mulai
menyerang manusia.
Tak lama kemudian,
manusia mulai melawan vampire dengan segala cara, dan ini berlangsung
lama, sangat lama. Sampai akhirnya kedua pihak saling sepakat, selama
vampire gak menyerang manusia, manusia gak akan membalas. Tapi masih
ada juga vampire yang nekat, makanya ada beberapa orang yang
mempelajari kelemahan vampire dan menggunakannya sebagai cara untuk
menjaga keseimbangan antara vampire dan manusia. Seiring waktu
berjalan ras yang lain mulai menunjukkan eksistensi mereka, werewolf,
elf dan warlock. Daripada memperkeruh suasana, ras-ras yang
lain(termasuk) vampire) memilih untuk hidup bersama manusia dalam
harmoni.
*
Keesokan harinya.
Pagi ini mama bikin
sarapan spesial, pasta maccaroni plus ayam goreng. Gak biasanya mama
masak spesial gini, bukan waktunya mikir yang aneh-aneh, sarapan itu
penting. Selesai sarapan, aku berpamitan dengan mama, kali ini malah
lebih aneh lagi, sebelum berangkat mama memelukku.
“Ma, aku bukan anak
TK.” Kataku protes
“Tapi kamu anak mama satu-satunya, jangan berantem
di
sekolah ya, mama gak mau kamu kena masalah.” Katanya sambil melepas
pelukan
“Oke,
aku berangkat”
Kalau kemaren dan
beberapa hari sebelumnya rasanya agak loyo, hari ini badanku rasanya
ringan. Selama aku sekolah dengan orang biasa yang gak tau apapun
soal vampire dan sejenis, aku mencoba untuk membaur, walaupun kadang
muncul godaan untuk merasakan nikmatnya darah segar, sebisa mungkin
kucoba untuk mengalihkan keinginan itu. Tapi kalo emang dasarnya
vampire agak susah, apalagi waktu pelajaran olahraga, dijamin bikin
orang terkejut. Untungnya selama ini gak ada satupun orang yang
berpikir aku ini mewarisi darah vampire.
Sesampainya di sekolah,
seperti biasa aku masuk sembunyi-sembunyi kalau gak mau dikejar
cewek-cewek itu. Sebenarnya ada satu orang yang tau jalan ini, karena
bagian belakan gudang sekolah yang digosipkan angker jadi gak banyak
yang berani lewat sini. Kecuali satu orang, selain aku tentunya,
namanya Rebecca Shimamura, manis tapi dewasa, plus dia punya hobi
yang sama denganku, baca buku. Mungkin itu yang bikin dia agak
dijauhi sama anak-anak yang lain, makanya aku lebih deket sama dia
dibanding cewek lainnya, sebagai temen tentunya. Hari ini dia sudah
menunggu di samping gudang sekolah.
“Becca.”
Kataku pelan
“Hanz,
nice timing, mumpung lagi sepi nih.”
Aku
memanggilnya Becca, sementara dia manggil aku Hanz. Pagi itu kami
lewati dengan menyusuri koridor yang jarang dipakai. Hari ini masih
sama seperti kemarin, class-meeting, daripada nganggur gak ada
kerjaan, mending ke perpustakaan aja, lumayan bisa tambah ilmu.
Biasanya kalau ketemu dengannya kami membicarakan... lebih tepatnya
debat soal ilmu pengetahuan, fakta-fakta, rumor, dan sebagainya.
Selain membaca, satu hal yang menjadi kesamaan kami : menghabiskan
waktu di perpustakaan. Kali ini dia membaca ensiklopedi, sementara
aku membaca novel, karena aku sudah membaca separuh buku yang ada di
perpustakaan sekolah, jadi buat refreshing aja.
Tiba-tiba,
aku merasakan tubuhku mulai berat seperti sebelumnya, di tambah
pengelihatanku mulai gak fokus, jadi aku memutuskan untuk istirahat
di ruang UKS. Buat bangun dari kursi rasanya berat setengah mati,
ngeliat aku bangun dengan susah payah, Rebecca menarik lenganku dan
meletakkannya di bahunya.
“Becca,
aku gak apa-apa.” Kataku sesehat mungkin
“Nilai
olahragamu nyaris sempurna di tiap semester,
kalo
cuma bangun dari kursi aja sempoyongan, berarti
ada
yang gak beres kan ?”
“Okelah
kalo begitu.” Kataku sambil bercanda
“Sebenernya
kamu sakit apa sih ?”
“Entahlah.”
Di
tengah perjalanan, tanganku mulai mati rasa, dan aku mulai gak bisa
ngerasain kakiku. Spontan aja aku kehilangan keseimbangan terus
jatuh, untung jatuhnya gak nimpa Rebecca, coba aja sampai kejadian,
kasian dia, udah dijauhin temen-temen gara-gara kutu buku ditambah
tertangkap basah bermesraan denganku.
“Hanz,
hey sadar ! Hanz, bangun ! Tolong !!!” suara Rebecca mulai gak
terdengar.
*
Selama beberapa saat,
terlihat samar-samar ada beberapa orang yang membawaku ke suatu
tempat, keliatannya rumah sakit, setelah itu aku kehilangan kesadaran
selama beberapa jam. Dalam kondisi setengah sadar aku melihat papa
sedang berbicara dengan Rebecca, mungkin dia menjelaskan siapa aku
sebenarnya, itu bisa kulihat dari raut mukanya yang terlihat shock.
Meskipun begitu dia mencoba mengatakan sesuatu padaku.
“Hanz...
aku tau siapa kamu sebenarnya, gak usah khawatir
buatku
kamu temen terbaikku yang gak tergantikan.”
“Becca,
maaf sudah bikin kamu repot.” Batinku
“Cepet
sembuh nanti kalo kamu sudah sembuh ceritain
soal
vampire ya. A... nggu....oh...” suaranya mulai terdengar
samar-samar
Semuanya
jadi gelap, sepi, dan aku gak bisa ngerasain ataupun menggerakkan
sejengkalpun bagian tubuhku. Apa aku mati ya ? Pertanyaan itu terus
bergema di kepalaku selama beberapa hari, minggu, mungkin sudah
berbulan-bulan, sangat lama sampai aku mulai kehilangan kewarasanku,
menyalahkan semuanya, hingga suatu saat akhirnya aku bisa menenangkan
pikiranku dan mengembalikkan kewarasanku. Tahun demi tahun berlalu,
meskipun tubuhku gak menua, secara bertahap pikiranku mulai
berkembang menjadi lebih dewasa, dan hari ini, 20 agustus 2015 aku
terbangun dari kegelapan itu.

No comments:
Post a Comment