Tuesday, October 8, 2013

Bloodlines of Supernatural (1st Phase)


1st Phase
Sleep


               Mari kita mundur ke lima tahun lalu, waktu semuanya masih normal, kurang lebih. Seperti keluarga besar pada umumnya, kalau ada satu yang menjadi aib pasti akan diusir dari keluarga itu. Dan hal itu terjadi pada papa, cuma gara-gara dia menikah sama mama yang notabene cuma orang biasa, lebih tepatnya manusia biasa. Tapi liat sisi positifnya, aku mewarisi kekuatan vampire murni, meskipun gak semuanya (kekuatan manusia super, regenerasi cepet, penuaan melambat), plus karena mama itu manusia biasa, aku gak akan lemes meskipun dijemur di bawah sinar matahari, disiram air suci, salib, dan satu lagi bawang putih. Sekarang aku kelas 3 SMA, untuk ukuran cowok, aku termasuk populer di kalangan cewek-cewek. Kata mereka aku itu cool, ganteng, misterius, dll. Minggu lalu ujian nasional, cuma tinggal nunggu hasilnya, semoga aja diatas rata-rata. Masa cowok cuma modal tampang doang, gak banget kan ? Tapi sejak ujian kemaren, rasanya ada yang gak beres sama badanku, rasanya kadang-kadang lemes, pusing, trus katanya temen-temen sekelas, aku jalan kaya orang mabuk. Jangan-jangan... aku positif... anemia. Itu gak mungkin, mana ada vampire anemia. Dari kecil (setengah vampire juga pernah jadi anak kecil, gak cuma manusia aja) perasaan aku gak pernah sakit deh, paling cuma flu, masuk angin (menyedihkan), mungkin papa tau apa yang harus kulakukan.

               Untungnya papa seorang dokter, semoga aja dia tau apa yang salah dengan tubuhku. Sepulang sekolah langsung aja, aku pergi ke kliniknya.
               “Pap, pengen ganggu boleh gak ?”
               “Gak biasanya kamu main ke sini, ada apa ? Sukses nembak cewek ?
               ditolak ?” kata papa sambil bercanda

               Papa boleh saja vampire murni, tapi dia berhasil menahan keinginannya untuk menggigit orang lain, mungkin itu yang bikin mama terkesan. Selain itu menurut umur manusia, seharusnya umur papa sudah 50 tahun, tapi keliatan kaya pertengahan 30 (serius nih). Meskipun posisinya kepala keluarga, tapi sifatnya yang childish emang gak berubah.
               “Pap, rasanya ada yang gak beres sama badanku.”
               “Maksudmu ?”
               “Jadi...bla bla bla(kujelasin panjang x lebar)..., apa ini faktor keturunan ?”
               “Aneh, kasus seperti ini belum pernah terjadi sama vampire manapun.”
               “Serius nih ?” aku jadi makin penasaran.
               “Berapa umurmu ?” papa malah balik nanya.
               “17, ada yang salah ?”
               “Kuambil sampel darahmu, mungkin besok hasilnya keluar” kata papa serius
               Gak biasanya papa bisa seserius ini. Tanpa membuang banyak waktu, papa langsung ambil jarum suntik dan mengambil sampel darahku. Setelah itu, aku memutuskan untuk langsung pulang, biasanya kalo pulang telat mama pasti marah-marah.

*

               Dan benar saja, baru sampe di depan rumah, mama udah nunggu di depan pintu, lengkap dengan sarung tinju kesayangannya. Meskipun mama cuma manusia biasa, tapi pukulannya nyeremin banget, papa aja sampai gak berani pulang seminggu gara-gara ribut sama mama. Mungkin aku harus siap-siap nahan pukulan mama yang kekuatannya setara sama truk yang ngangkut sapi.

               “Maaf, aku pulang telat gak kasih tau.” Kataku sambil siapin kuda-kuda
               “Kamu ini memang mirip papamu,
               jangan diulangi lagi ya.” Kata mama sambil mengusap rambutku.
               Untung moodnya mama lagi bagus, coba aja lagi badmood. Buat nebus kesalahanku, hari ini aku ngerapi’in rumah, bersih-bersih, dsb. Malam ini papa gak pulang buat nunggu hasil tes sampel darahku. Buat yang pengen tau sejarah vampire, sini aku jelasin. Pertama tama, yang namanya energi itu gak bisa dilihat, tapi bisa di rasakan dan ada pengaruhnya sama manusia. Kedua sel-sel manusia itu bisa mengalami mutasi kalau terkena (radiasi) energi yang cukup kuat. Kembali ke topik, jadi dulu sekali, abad pertengahan kalau gak salah, ada seorang manusia biasa yang terkena semacam energi, sel-sel di tubuhnya mulai bermutasi, dan tak lama kemudian dia berubah, bukan jadi power ranger atau kamen rider, apalagi sailor moon, tapi dia berubah jadi vampire yang pertama. Setelah beberapa generasi, vampire semakin beradaptasi dengan lingkungan, dan sayangnya mereka mulai menyerang manusia.

               Tak lama kemudian, manusia mulai melawan vampire dengan segala cara, dan ini berlangsung lama, sangat lama. Sampai akhirnya kedua pihak saling sepakat, selama vampire gak menyerang manusia, manusia gak akan membalas. Tapi masih ada juga vampire yang nekat, makanya ada beberapa orang yang mempelajari kelemahan vampire dan menggunakannya sebagai cara untuk menjaga keseimbangan antara vampire dan manusia. Seiring waktu berjalan ras yang lain mulai menunjukkan eksistensi mereka, werewolf, elf dan warlock. Daripada memperkeruh suasana, ras-ras yang lain(termasuk) vampire) memilih untuk hidup bersama manusia dalam harmoni.

*

               Keesokan harinya.
               Pagi ini mama bikin sarapan spesial, pasta maccaroni plus ayam goreng. Gak biasanya mama masak spesial gini, bukan waktunya mikir yang aneh-aneh, sarapan itu penting. Selesai sarapan, aku berpamitan dengan mama, kali ini malah lebih aneh lagi, sebelum berangkat mama memelukku.
               “Ma, aku bukan anak TK.” Kataku protes
               “Tapi kamu anak mama satu-satunya, jangan berantem
               di sekolah ya, mama gak mau kamu kena masalah.” Katanya sambil melepas pelukan
               “Oke, aku berangkat”
               Kalau kemaren dan beberapa hari sebelumnya rasanya agak loyo, hari ini badanku rasanya ringan. Selama aku sekolah dengan orang biasa yang gak tau apapun soal vampire dan sejenis, aku mencoba untuk membaur, walaupun kadang muncul godaan untuk merasakan nikmatnya darah segar, sebisa mungkin kucoba untuk mengalihkan keinginan itu. Tapi kalo emang dasarnya vampire agak susah, apalagi waktu pelajaran olahraga, dijamin bikin orang terkejut. Untungnya selama ini gak ada satupun orang yang berpikir aku ini mewarisi darah vampire.

               Sesampainya di sekolah, seperti biasa aku masuk sembunyi-sembunyi kalau gak mau dikejar cewek-cewek itu. Sebenarnya ada satu orang yang tau jalan ini, karena bagian belakan gudang sekolah yang digosipkan angker jadi gak banyak yang berani lewat sini. Kecuali satu orang, selain aku tentunya, namanya Rebecca Shimamura, manis tapi dewasa, plus dia punya hobi yang sama denganku, baca buku. Mungkin itu yang bikin dia agak dijauhi sama anak-anak yang lain, makanya aku lebih deket sama dia dibanding cewek lainnya, sebagai temen tentunya. Hari ini dia sudah menunggu di samping gudang sekolah.
               “Becca.” Kataku pelan
               “Hanz, nice timing, mumpung lagi sepi nih.”
               Aku memanggilnya Becca, sementara dia manggil aku Hanz. Pagi itu kami lewati dengan menyusuri koridor yang jarang dipakai. Hari ini masih sama seperti kemarin, class-meeting, daripada nganggur gak ada kerjaan, mending ke perpustakaan aja, lumayan bisa tambah ilmu. Biasanya kalau ketemu dengannya kami membicarakan... lebih tepatnya debat soal ilmu pengetahuan, fakta-fakta, rumor, dan sebagainya. Selain membaca, satu hal yang menjadi kesamaan kami : menghabiskan waktu di perpustakaan. Kali ini dia membaca ensiklopedi, sementara aku membaca novel, karena aku sudah membaca separuh buku yang ada di perpustakaan sekolah, jadi buat refreshing aja.

               Tiba-tiba, aku merasakan tubuhku mulai berat seperti sebelumnya, di tambah pengelihatanku mulai gak fokus, jadi aku memutuskan untuk istirahat di ruang UKS. Buat bangun dari kursi rasanya berat setengah mati, ngeliat aku bangun dengan susah payah, Rebecca menarik lenganku dan meletakkannya di bahunya.
               “Becca, aku gak apa-apa.” Kataku sesehat mungkin
               “Nilai olahragamu nyaris sempurna di tiap semester,
               kalo cuma bangun dari kursi aja sempoyongan, berarti
               ada yang gak beres kan ?”
               “Okelah kalo begitu.” Kataku sambil bercanda
               “Sebenernya kamu sakit apa sih ?”
               “Entahlah.”
               Di tengah perjalanan, tanganku mulai mati rasa, dan aku mulai gak bisa ngerasain kakiku. Spontan aja aku kehilangan keseimbangan terus jatuh, untung jatuhnya gak nimpa Rebecca, coba aja sampai kejadian, kasian dia, udah dijauhin temen-temen gara-gara kutu buku ditambah tertangkap basah bermesraan denganku.
               “Hanz, hey sadar ! Hanz, bangun ! Tolong !!!” suara Rebecca mulai gak terdengar.

*

               Selama beberapa saat, terlihat samar-samar ada beberapa orang yang membawaku ke suatu tempat, keliatannya rumah sakit, setelah itu aku kehilangan kesadaran selama beberapa jam. Dalam kondisi setengah sadar aku melihat papa sedang berbicara dengan Rebecca, mungkin dia menjelaskan siapa aku sebenarnya, itu bisa kulihat dari raut mukanya yang terlihat shock. Meskipun begitu dia mencoba mengatakan sesuatu padaku.
               “Hanz... aku tau siapa kamu sebenarnya, gak usah khawatir
               buatku kamu temen terbaikku yang gak tergantikan.”
               “Becca, maaf sudah bikin kamu repot.” Batinku
               “Cepet sembuh nanti kalo kamu sudah sembuh ceritain
               soal vampire ya. A... nggu....oh...” suaranya mulai terdengar samar-samar
               Semuanya jadi gelap, sepi, dan aku gak bisa ngerasain ataupun menggerakkan sejengkalpun bagian tubuhku. Apa aku mati ya ? Pertanyaan itu terus bergema di kepalaku selama beberapa hari, minggu, mungkin sudah berbulan-bulan, sangat lama sampai aku mulai kehilangan kewarasanku, menyalahkan semuanya, hingga suatu saat akhirnya aku bisa menenangkan pikiranku dan mengembalikkan kewarasanku. Tahun demi tahun berlalu, meskipun tubuhku gak menua, secara bertahap pikiranku mulai berkembang menjadi lebih dewasa, dan hari ini, 20 agustus 2015 aku terbangun dari kegelapan itu.

No comments:

Post a Comment