Tuesday, October 15, 2013

Bloodlines of Supernatural (2nd Phase)




2nd Phase
Awakening


           “Cerita yang bagus, kuberi nilai 8 deh.” Kata cewe misterius itu
           “Bawel. Siapa namamu ?”
           “Agatha Tristan. Jadi apa yang mau kamu lakukan sekarang ?”
           “Pulang, aku mau ngecek beberapa hal.” Kataku sambil
           melepas selang infus yang masih tertancap di tanganku.
           “Seluruh keluargamu...”
           “Dibantai, aku bisa lihat itu dari ekspresimu.” Kataku menyela
           “Turut berduka cita.” Katanya sambil menundukan kepala
           “Itu gak perlu, aku sudah siap kalo hari ini akan datang,
           satu hal, bisakah kau memberiku baju yang lebih layak”
           “Ini.” Jawabnya sambil menyerahkan T-shirt, celana panjang dan pakaian dalam
           Sudah berapa tahun ya gak ganti baju. Tanpa membuang banyak waktu, aku segera membersihkan diri setelah bertahun-tahun gak mandi dan ganti baju. Sewaktu aku melihat ke cermin, gak terlihat satupun tanda penuaan, kalau orang pikir vampire gak punya bayangan, itu salah, mereka cuman menyembunyikan bayangan mereka aja. Meskipun cuma keliatan kaya anak 18 tahun, rambutku jadi gondrong gak karuan, makanya aku pinjam pisau dari Agatha, dan merapikan sedikit rambutku. Sebenarnya sejak SMA aku pengen gondrong, biar keliatan kaya anak band, tapi karena peraturan sekolah, terpaksa deh.

           Karena sudah keinginanku sejak lama, aku cuma memotong sedikit rambutku, dan sisanya kuikat model ponytail. Setidaknya, rambut panjang ini bisa menghiburku sedikit. Selama gak sadar, aku mempersiapkan kalo hal ini akan terjadi. Papa, mama, semoga kalian tenang. Firasatku mengatakan, papa pasti meninggalkan biaya untuk masa depanku di suatu tempat, setidaknya sampai lulus kuliah, ingat kuliah... ijazah SMA ku pasti sudah gak berlaku. Yang penting aku harus segera mengambil peninggalan ayah.

           Ketika aku hendak keluar dari kamar ini, ada semacam penghalang tembus pandang yang mencegahku untuk keluar. Ini trik yang harus dikuasai seorang warlock, karena mereka makhluk supernatural yang memfokuskan kekuatan mereka di sihir dan kutukan. Dan aku tau siapa yang membuat barrier ini.
           “Bisa tolong buka barrier ini ?”
           “Mundur.” Kata Agatha sambil menggambar semacam gylph di udara

           Aku baru tau, cara warlock menggunakan sihir mereka. Mulai dari sini, mungkin aku bisa bekerja part-time di suatu tempat, tambah pengalaman dan ilmu. Waktunya mengucapkan selamat tinggal pada warlock menyebalkan ini.
           “Selamat tinggal, thanks buat baju dan celananya.” Kataku
            sambil melangkah keluar.
           “Mungkin aku harus menemanimu, banyak yang berubah
           dalam lima tahun terakhir.” Katanya sambil mendahului keluar kamar.

           Yang dia bilang ada benernya juga, sepanjang jalan, image kota yang kukenal sudah berubah, banyak orang yang menggunakan hp touchscreen, sekumpulan orang yang saling bertarung tangan kosong, papan iklan yang menggunakan layar LCD, dan hal baru lainnya. Setidaknya tata kota ini gak banyak berubah sejak aku koma, sekarang yang menjadi tempat tujuan pertamaku : klinik papa. Sesampainya di sana, bangunan itu sudah berubah jadi puing-puing, seperti habis terbakar, di dalamnya banyak batu, runtuhan bangunan, sampah, dll bertumpuk menjadi satu. Seharusnya ruang prakteknya masih utuh karena terletak di bagian dalam, dan bener aja, meskipun tertutup debu tapi semuanya masih dalam kondisi utuh. Di meja kerjanya ada sebuah amplop, begitu kubuka isinya keluar aroma yang kubenci tapi harus kuakui memang harum, sebuah surat yang ditulis dengan darah. Dari cerita yang sering kudengar, surat yang ditulis dengan darah vampire biasanya isinya gak main-main, tapi kalo yang nulis papa... aku gak yakin soal isinya.

           Johann, anakku

           Kalau kamu membaca surat ini, kemungkinan besar papa dan mama gak bisa
           menemanimu lagi. Maaf kalo kami pergi tanpa pamit. Setahun setelah kamu
           koma aku akhirnya menemukan sumber penyakitmu belakangan ini. Penyakitmu
           itu terjadi karena sel-sel dalam tubuhmu mulai mengalami degenerasi, kasus
           seperti ini belum pernah terjadi pada vampire manapun. Saat ini aku masih
           mencari penangkalnya.
           “Kenangan yang terlukiskan, sebagian diriku yang tertidur dalam tubuhmu,
           kunci yang tak bertahan lama, pecahkan dan kau tau.”

           Ruben Zeamermann

           Aku gak percaya papa kali ini serius. Papa memang suka bikin teka-teki, mungkin teka-teki ini ada maksudnya. Bertahun-tahun gak mikir, pikiranku mulai tumpul, terpaksa deh minta bantuan si cerewet nyebelin(Agatha maksudnya). Mari kita lihat, kenangan yang terlukis.....
           “Foto atau lukisan mungkin.” Jawabnya sambil membaca surat itu berulang kali
           “O~ke, sebagian diriku yang tertidur dalam tubuhmu.”
           “Ingatan atau kekuatan, apa yang kamu warisi ?”
           “DNA, kamu mungkin belum tahu aku ini setengah vampire.”
           “Belum ada setahun sejak aku ditugaskan buat menjagamu, jadi begitulah.”
           “Thanks buat perlindungannya, pecahkan dan kau tahu.”
           “kode.” Kataku bersamaan dengannya
           “Tinggal satu, kunci yang tak bertahan lama.” Katanya penasaran
           Satu-satunya lukisan keluarga yang kumiliki cuma ada di rumah. Tujuan berikutnya : rumah. Dari teka-teki tadi cuma tinggal satu yang belum terjawab, “kunci yang tak bertahan lama. Semoga aja dirumah semua kode ini jadi jelas.

*

           Ibarat langit dan bumi, kondisi ruang praktek papa dengan rumah berbeda 180°. Bentuk yang dulu sudah gak kelihatan, paling cuma satu atau dua tembok. Firasatku mengatakan ada hal yang mencurigakan, di saat seperti ini harus inget apa yang dikatakan papa “Berpikir positif bagus untuk tubuhmu”, oke kali ini kuikuti saranmu. Begitu kulihat lebih dekat, ternyata ada semacam pintu di balik lantai yang dulunya ditempati kulkas, karena sudah gak ada yang nutupin, pintu itu kubuka dengan perlahan-lahan.... *BRAK* lepas beserta engselnya, apa yang terjadi sama tubuhku ya ? Mungkin aku harus mengurangi kekuatanku mulai saat ini. Kembali ke pintu, di balik pintu tadi ada lorong yang cuma bisa dilewati satu orang, berhubung dia juga penasaran, dia masuk lorong itu lebih dulu. Mungkin sekalian biar aku gak bisa ngintip bagian bawah roknya, meski aku gak mikir sejauh itu. Sesampainya di bawah kami disambut ruangan yang gelap.
           “Luce Balteo” kata Agatha sambil menggambar gylph di udara, keren juga.

           Gylph tadi berubah menjadi sebuah orb yang bersinar dan mengelilingi Agatha. Masalah penerangan terselesaikan. Mungkin ruangan ini lebih besar dari yang kukira, di saat kami berjalan ada sesuatu yang mengikuti kami, bukan hantu, yang dikatakan orang jaman dulu ada benernya, hantu itu gak nyentuh tanah karena mereka lebih ringan dari pada udara. Keliatannya sejak masuk rumah kami memang sudah diikuti, kira-kira ada tiga atau empat orang, postur tubuh tegap dan cukup kokoh. Mereka pasti berniat merampas apapun yang tersisa dari rumah ini dan memiliki nilai jual, sebelum mereka melakukan hal itu, mereka harus melangkahi mayatku dan Agatha.
           “Apa yang kalian cari ?” tanyaku sambil nunjuk orang yang
           kemungkinan pemimpinnya
           “Apapun yang bisa kami jual, misalnya harta yang
           tersembunyi, organmu, atau pacarmu yang cantik itu...”
           “Ignis Lancea !!” kata Agatha sambil menembakkan tombak api ke orang itu
           “Bos ?!” kata para bawahan
           “Aku bukan pacar orang ini !!” kata Agatha sambil bersiap-siap menembak lagi
           “Dasar cemen, beraninya ngumpet di belakang cewek !” teriak salah seorang
           Pencuri sambil mengacungkan jari tengahnya

           Orang ini... berani-beraninya dia... masuk tanpa permisi... bilang cemen lagi... ngumpet di belakang cewe ?..... acungin jari tengah..... pencuri sialan. Darahku terasa mendidih saat memikirkan ucapan pencuri itu, mungkin ini melanggar perjanjian vampire dengan manusia tapi orang ini gak akan keluar dalam kondisi utuh.

           *ctik* aku hanya menjentikan jari
           “hunghhghh.” Rintih pencuri yang berada di paling belakang sambil
           memegang lehernya.
           “apa yang terjadi ?” tanya pencuri ketiga sambil menodongkan pisau dan
           bersiap-siap menusukku dengan kecepatan penuh.
           Aku hanya melakukan beberapa gerakan satu tangan untuk menggerakkan pisau orang tadi, membuatnya mengambang di udara dan mengarahkannya tepat 1 cm di depan mata pencuri itu.

           “Kumohon jangan” katanya sambil berlutut dan menitikkan air mata.
           Sungguh pemandangan yang menyedihkan. Akupun menurunkan pisau tadi, lalu menancapkannya dengan kecepatan tinggi diantara mata pencuri itu. Melihat teman-temannya mati sia-sia, pencuri gak tau sopan santun tadi langsung ambil langkah seribu, tapi belum sempat dia mengambil langkah pertama, aku sudah menggerakkan tubuhnya agar berjalan ke arahku.
           “Kau monster !” katanya sambil menangis ketakutan
           “Serius ? bukannya aku ini cemen ?” kataku sambil
           mematahkan lengannya perlahan
           *THACHK*
           “AAAAAAAAARAGHH !!!! Maafkan aku” lanjutnya sambil meringis menahan sakit
           “Ah, satu lagi, ngumpet di belakang cewe ?” kakinya gak luput dari hitunganku
           “Johann, hentikan sekarang juga!” kata Agatha sambil menarik lengan bajuku
           “Hey, aku sedang bersenang-senang.” Kataku cuek
           “Tapi ini salah !” katanya sambil memukul-mukul punggungku
           “Dia benar, pasti ada cara lain.” Si pencuri ikut campur pembicaraan ini
           “Ya sudah, aku maafin deh”
           “terima..” kata pencuri yang menggenaskan itu
           *KRAKK SHRACK DUG… DUG…DUG…DUG…* suara yang keluar saat kucabut jantung orang itu, seumur hidup aku belum pernah berantem karena aku memiliki kekuatan yang gak dimiliki bahkan oleh vampire murni, mengendalikan darah, sebenarnya ini cuma bentuk upgrade psikokinetik, cuman belum pernah ada yang bisa sampai sejauh ini. 
 
           “Tapi bo’ong” kataku sambil melanjutkan perjalanan
           *PLAK* Agatha menamparku meskipun cuma buang-buang tenaganya, karena dia tau regenerasiku gak kalah cepet sama vampire murni. Keliatannya dia masih marah soal yang tadi.
           “Apa maksudmu ? membunuh orang dengan cara yang
           kejam itu memang sifat vampire ya ?” dia menghujaniku dengan pertanyaan
           “bukan, dia yang mulai…” kataku membela diri
           “Coba bayangkan perasaan orang tuamu saat mereka
           tau kamu membunuh orang dengan tidak manusiawi ?”

           Astaga, aku memang gak berpikir sejauh itu, kalau gini aku gak ada bedanya sama orang-orang yang menindas orang yang lebih lemah dari pada mereka. Ini membuatku menjadi pecundang yang sebenarnya. Diam aja gak akan menyelesaikan apapun, kami segera melanjutkan perjalanan, dan setelah berjalan cukup lama akhirnya ujung terowongan ini kelihatan. Sebuah tembok, alias jalan buntu, tapi ada yang aneh di tembok ini, kalau dilihat dengan mata biasa mungkin sama dengan tembok biasa, tapi kalau dilihat dengan lebih fokus, ada semacam garis yang diukir di tembok ini. Mungkin ini ada hubungannya dengan kode tadi, “Kenangan yang terlukiskan, sebagian diriku yang tertidur dalam tubuhmu, kunci yang tak bertahan lama, pecahkan dan kau tau”, lukisan DNA, kunci yang tak bertahan lama. Ini cuma bikin frustasi.

           “Pinjam pisaumu lagi.”
           “Buat apa ?” tanyanya sambil memberikan sebilah pisau
           Tanpa pikir panjang aku menyayat pergelangan tanganku. Darah segarpun keluar dari luka yang mulai menutup… kutemukan jawabannya, darah yang masih keluar tadi kucolek dan kuusapkan ke tembok itu. Meskipun cuma goresan kecil, dari goresan darah tadi muncul garis yang bergerak ke setiap bagian tembok ini dan membentuk sebuah lukisan pohon keluarga. Meskipun tulisannya mulai memudar dimakan waktu, tapi namaku masih tertulis jelas disana, mungkin di buat belum lama ini. Ini semacam OOPArt (Out Of Place Artifact) meskipun ada namaku di sana tapi aku sudah kehabisan ide. Agatha yang masih ngambek, menyimpulkan kalau sistem kerjanya seperti touchscreen. Berhubung di jamanku belum ada yang secanggih itu, sisanya kuserahkan pada Agatha, semoga aja ini bisa bikin moodnya lebih baik. Sepertinya usahanya mulai membuahkan hasil, lorong yang baru saja kulewati tiba-tiba menjadi terang, selain itu dari salah satu ubin muncul sebuah pilar. Diatasnya ada sepucuk surat dan sebuah… HP ? Mungkin aku harus membiasakan diri dengan jaman yang makin cepat ini. Tanpa seijinku, Agatha dengan cepat mengambil surat yang pasti ditulis khusus untukku.

           Untuk siapapun yang membaca surat ini

           Aku menitipkan anakku satu-satunya setidaknya sampai Ia bisa menafkahi
           dirinya sendiri. Apabila setelah membaca surat ini anda tidak bisa menyanggupi
           hal tersebut maka mantra kutukan di bawah ini akan aktif .

           “kegelapan datang seiring dengan pergantian siang menjadi malam, hanya
           kepedihan yang luar biasa yang bisa membuatmu patuh”

           P,S : Bilang pada anakku kalau ayahnya sudah berhasil menyelesaikan serum
           penawar penyakitnya dan menggunakannya untuk memperbaiki selnya yang
           rusak.

           Natasha Zeamermann


           “ini gak bercanda kan ?” tanya Agatha ketakutan.
           “mantra yang ditulis dengan darah vampire murni
           gak pernah meleset loh.” Jawabku menakut-nakuti.
           Karena isi suratnya cuma itu, mau gak mau, Agatha “dengan sukarela” membiarkanku tinggal di rumahnya. Sepertinya ini lanjutan kode tadi, bedanya surat yang ini ditulis oleh mama dengan tinta darah papa. Soal HP tadi, dari luar keliatan kaya HP touchscreen biasa, begitu kuaktifkan, dari layarnya muncul, semacam scanner, kucoba dengan sidik jari gak ada efek, begitu kudekatkan ke mataku, scannernya mulai berfungsi. Menurut Agatha, belum pernah ada dengan model kaya gini sebelumnya, dan kemungkinan besar HP ini handmade, tapi siapa ya ? Perasaan papa sama sekali gak ngerti teknologi, mama ngerti cukup banyak sih, tapi gak serumit ini. Siapapun yang buat, terima kasih banyak. Karena udah gak ada kode atau yang lainnya, untuk sementara aku akan tinggal di rumah Agatha

No comments:

Post a Comment