Awakening
“Cerita
yang bagus, kuberi nilai 8 deh.” Kata cewe misterius itu
“Bawel.
Siapa namamu ?”
“Agatha
Tristan. Jadi apa yang mau kamu lakukan sekarang ?”
“Pulang,
aku mau ngecek beberapa hal.” Kataku sambil
melepas
selang infus yang masih tertancap di tanganku.
“Seluruh
keluargamu...”
“Dibantai,
aku bisa lihat itu dari ekspresimu.” Kataku menyela
“Turut
berduka cita.” Katanya sambil menundukan kepala
“Itu gak
perlu, aku sudah siap kalo hari ini akan datang,
satu hal,
bisakah kau memberiku baju yang lebih layak”
“Ini.”
Jawabnya sambil menyerahkan T-shirt, celana panjang dan pakaian dalam
Sudah
berapa tahun ya gak ganti baju. Tanpa membuang banyak waktu, aku
segera membersihkan diri setelah bertahun-tahun gak mandi dan ganti
baju. Sewaktu aku melihat ke cermin, gak terlihat satupun tanda
penuaan, kalau orang pikir vampire gak punya bayangan, itu salah,
mereka cuman menyembunyikan bayangan mereka aja. Meskipun cuma
keliatan kaya anak 18 tahun, rambutku jadi gondrong gak karuan,
makanya aku pinjam pisau dari Agatha, dan merapikan sedikit rambutku.
Sebenarnya sejak SMA aku pengen gondrong, biar keliatan kaya anak
band, tapi karena peraturan sekolah, terpaksa deh.
Karena
sudah keinginanku sejak lama, aku cuma memotong sedikit rambutku, dan
sisanya kuikat model ponytail. Setidaknya, rambut panjang ini bisa
menghiburku sedikit. Selama gak sadar, aku mempersiapkan kalo hal ini
akan terjadi. Papa, mama, semoga kalian tenang. Firasatku mengatakan,
papa pasti meninggalkan biaya untuk masa depanku di suatu tempat,
setidaknya sampai lulus kuliah, ingat kuliah... ijazah SMA ku pasti
sudah gak berlaku. Yang penting aku harus segera mengambil
peninggalan ayah.
Ketika aku
hendak keluar dari kamar ini, ada semacam penghalang tembus pandang
yang mencegahku untuk keluar. Ini trik yang harus dikuasai seorang
warlock, karena mereka makhluk supernatural yang memfokuskan kekuatan
mereka di sihir dan kutukan. Dan aku tau siapa yang membuat barrier
ini.
“Bisa
tolong buka barrier ini ?”
“Mundur.”
Kata Agatha sambil menggambar semacam gylph di udara
Aku baru
tau, cara warlock menggunakan sihir mereka. Mulai dari sini, mungkin
aku bisa bekerja part-time di suatu tempat, tambah pengalaman dan
ilmu. Waktunya mengucapkan selamat tinggal pada warlock menyebalkan
ini.
“Selamat
tinggal, thanks buat baju dan celananya.” Kataku
sambil melangkah
keluar.
“Mungkin
aku harus menemanimu, banyak yang berubah
dalam lima
tahun terakhir.” Katanya sambil mendahului keluar kamar.
Yang dia
bilang ada benernya juga, sepanjang jalan, image kota yang kukenal
sudah berubah, banyak orang yang menggunakan hp touchscreen,
sekumpulan orang yang saling bertarung tangan kosong, papan iklan
yang menggunakan layar LCD, dan hal baru lainnya. Setidaknya tata
kota ini gak banyak berubah sejak aku koma, sekarang yang menjadi
tempat tujuan pertamaku : klinik papa. Sesampainya di sana, bangunan
itu sudah berubah jadi puing-puing, seperti habis terbakar, di
dalamnya banyak batu, runtuhan bangunan, sampah, dll bertumpuk
menjadi satu. Seharusnya ruang prakteknya masih utuh karena terletak
di bagian dalam, dan bener aja, meskipun tertutup debu tapi semuanya
masih dalam kondisi utuh. Di meja kerjanya ada sebuah amplop, begitu
kubuka isinya keluar aroma yang kubenci tapi harus kuakui memang
harum, sebuah surat yang ditulis dengan darah. Dari cerita yang
sering kudengar, surat yang ditulis dengan darah vampire biasanya
isinya gak main-main, tapi kalo yang nulis papa... aku gak yakin soal
isinya.
Johann,
anakku
Kalau kamu
membaca surat ini, kemungkinan besar papa dan mama gak bisa
menemanimu
lagi. Maaf kalo kami pergi tanpa pamit. Setahun setelah kamu
koma aku
akhirnya menemukan sumber penyakitmu belakangan ini. Penyakitmu
itu
terjadi karena
sel-sel dalam tubuhmu mulai mengalami degenerasi, kasus
seperti ini
belum pernah
terjadi pada vampire manapun. Saat ini aku masih
mencari
penangkalnya.
“Kenangan
yang terlukiskan, sebagian diriku yang tertidur dalam tubuhmu,
kunci yang tak
bertahan lama, pecahkan dan kau tau.”
Ruben
Zeamermann
Aku gak
percaya papa kali ini serius. Papa memang suka bikin teka-teki,
mungkin teka-teki ini ada maksudnya. Bertahun-tahun gak mikir,
pikiranku mulai tumpul, terpaksa deh minta bantuan si cerewet
nyebelin(Agatha maksudnya). Mari kita lihat, kenangan yang
terlukis.....
“Foto
atau lukisan mungkin.” Jawabnya sambil membaca surat itu berulang
kali
“O~ke,
sebagian diriku yang tertidur dalam tubuhmu.”
“Ingatan
atau kekuatan, apa yang kamu warisi ?”
“DNA,
kamu mungkin belum tahu aku ini setengah vampire.”
“Belum
ada setahun sejak aku ditugaskan buat menjagamu, jadi begitulah.”
“Thanks
buat perlindungannya, pecahkan dan kau tahu.”
“kode.”
Kataku bersamaan dengannya
“Tinggal
satu, kunci yang tak bertahan lama.” Katanya penasaran
Satu-satunya
lukisan keluarga yang kumiliki cuma ada di rumah. Tujuan berikutnya :
rumah. Dari teka-teki tadi cuma tinggal satu yang belum terjawab,
“kunci yang tak bertahan lama. Semoga aja dirumah semua kode ini
jadi jelas.
*
Ibarat
langit dan bumi, kondisi ruang praktek papa dengan rumah berbeda
180°. Bentuk yang dulu sudah gak kelihatan, paling cuma satu atau
dua tembok. Firasatku mengatakan ada hal yang mencurigakan, di saat
seperti ini harus inget apa yang dikatakan papa “Berpikir positif
bagus untuk tubuhmu”, oke kali ini kuikuti saranmu. Begitu kulihat
lebih dekat, ternyata ada semacam pintu di balik lantai yang dulunya
ditempati kulkas, karena sudah gak ada yang nutupin, pintu itu kubuka
dengan perlahan-lahan.... *BRAK* lepas beserta engselnya, apa yang
terjadi sama tubuhku ya ? Mungkin aku harus mengurangi kekuatanku
mulai saat ini. Kembali ke pintu, di balik pintu tadi ada lorong yang
cuma bisa dilewati satu orang, berhubung dia juga penasaran, dia
masuk lorong itu lebih dulu. Mungkin sekalian biar aku gak bisa
ngintip bagian bawah roknya, meski aku gak mikir sejauh itu.
Sesampainya di bawah kami disambut ruangan yang gelap.
“Luce Balteo” kata Agatha sambil menggambar gylph di
udara, keren juga.
Gylph tadi berubah menjadi sebuah orb yang bersinar dan mengelilingi
Agatha. Masalah penerangan terselesaikan. Mungkin ruangan ini lebih
besar dari yang kukira, di saat kami berjalan ada sesuatu yang
mengikuti kami, bukan hantu, yang dikatakan orang jaman dulu ada
benernya, hantu itu gak nyentuh tanah karena mereka lebih ringan dari
pada udara. Keliatannya sejak masuk rumah kami memang sudah diikuti,
kira-kira ada tiga atau empat orang, postur tubuh tegap dan cukup
kokoh. Mereka pasti berniat merampas apapun yang tersisa dari rumah
ini dan memiliki nilai jual, sebelum mereka melakukan hal itu, mereka
harus melangkahi mayatku dan Agatha.
“Apa
yang kalian cari ?” tanyaku sambil nunjuk orang yang
kemungkinan
pemimpinnya
“Apapun
yang bisa kami jual, misalnya harta yang
tersembunyi,
organmu, atau pacarmu yang cantik itu...”
“Ignis
Lancea !!” kata Agatha sambil menembakkan tombak api ke orang
itu
“Bos ?!”
kata para bawahan
“Aku
bukan pacar orang ini !!” kata Agatha sambil bersiap-siap menembak
lagi
“Dasar
cemen, beraninya ngumpet di belakang cewek !” teriak salah seorang
Pencuri
sambil mengacungkan jari tengahnya
Orang
ini... berani-beraninya dia... masuk tanpa permisi... bilang cemen
lagi... ngumpet di belakang cewe ?..... acungin jari tengah.....
pencuri sialan. Darahku terasa mendidih saat memikirkan ucapan
pencuri itu, mungkin ini melanggar perjanjian vampire dengan manusia
tapi orang ini gak akan keluar dalam kondisi utuh.
*ctik* aku
hanya menjentikan jari
“hunghhghh.”
Rintih pencuri yang berada di paling belakang sambil
memegang
lehernya.
“apa
yang terjadi ?” tanya pencuri ketiga sambil menodongkan pisau dan
bersiap-siap
menusukku dengan kecepatan penuh.
Aku hanya
melakukan beberapa gerakan satu tangan untuk menggerakkan pisau orang
tadi, membuatnya mengambang di udara dan mengarahkannya tepat 1 cm di
depan mata pencuri itu.
“Kumohon
jangan” katanya sambil berlutut dan menitikkan air mata.
Sungguh
pemandangan yang menyedihkan. Akupun menurunkan pisau tadi, lalu
menancapkannya dengan kecepatan tinggi diantara mata pencuri itu.
Melihat teman-temannya mati sia-sia, pencuri gak tau sopan santun
tadi langsung ambil langkah seribu, tapi belum sempat dia mengambil
langkah pertama, aku sudah menggerakkan tubuhnya agar berjalan ke
arahku.
“Kau monster
!” katanya sambil menangis ketakutan
“Serius ?
bukannya aku ini cemen ?” kataku sambil
mematahkan lengannya
perlahan
*THACHK*
“AAAAAAAAARAGHH
!!!! Maafkan aku” lanjutnya
sambil meringis menahan sakit
“Ah, satu
lagi, ngumpet di belakang cewe ?” kakinya gak luput dari hitunganku
“Johann,
hentikan sekarang juga!” kata Agatha sambil menarik lengan
bajuku
“Hey, aku sedang
bersenang-senang.” Kataku cuek
“Tapi ini salah !”
katanya sambil memukul-mukul punggungku
“Dia benar, pasti ada
cara lain.” Si pencuri ikut campur pembicaraan ini
“Ya sudah, aku maafin
deh”
“terima..”
kata pencuri yang menggenaskan itu
*KRAKK
SHRACK DUG… DUG…DUG…DUG…* suara yang keluar saat kucabut
jantung orang itu, seumur hidup aku belum pernah berantem karena aku
memiliki kekuatan yang gak dimiliki bahkan oleh vampire murni,
mengendalikan darah, sebenarnya ini cuma bentuk upgrade psikokinetik,
cuman belum pernah ada yang bisa sampai sejauh ini.
“Tapi bo’ong”
kataku sambil melanjutkan perjalanan
*PLAK* Agatha
menamparku meskipun cuma buang-buang tenaganya, karena dia tau
regenerasiku gak kalah cepet sama vampire murni. Keliatannya dia
masih marah soal yang tadi.
“Apa maksudmu ?
membunuh orang dengan cara yang
kejam itu memang sifat
vampire ya ?” dia menghujaniku dengan pertanyaan
“bukan,
dia yang mulai…” kataku membela diri
“Coba bayangkan
perasaan orang tuamu saat mereka
tau kamu membunuh orang
dengan tidak manusiawi ?”
Astaga,
aku memang gak berpikir sejauh itu, kalau gini aku gak ada bedanya
sama orang-orang yang menindas orang yang lebih lemah dari pada
mereka. Ini membuatku menjadi pecundang yang sebenarnya. Diam aja gak
akan menyelesaikan apapun, kami segera melanjutkan perjalanan, dan
setelah berjalan cukup lama akhirnya ujung terowongan ini kelihatan.
Sebuah tembok, alias jalan buntu, tapi ada yang aneh di tembok ini,
kalau dilihat dengan mata biasa mungkin sama dengan tembok biasa,
tapi kalau dilihat dengan lebih fokus, ada semacam garis yang diukir
di tembok ini. Mungkin ini ada hubungannya dengan kode tadi,
“Kenangan yang terlukiskan, sebagian diriku yang tertidur
dalam tubuhmu, kunci yang tak bertahan
lama, pecahkan dan kau tau”, lukisan DNA, kunci
yang tak bertahan lama. Ini cuma bikin frustasi.
“Pinjam pisaumu
lagi.”
“Buat apa ?”
tanyanya sambil memberikan sebilah pisau
Tanpa
pikir panjang aku menyayat pergelangan tanganku. Darah segarpun
keluar dari luka yang mulai menutup… kutemukan jawabannya, darah
yang masih keluar tadi kucolek dan kuusapkan ke tembok itu. Meskipun
cuma goresan kecil, dari goresan darah tadi muncul garis yang
bergerak ke setiap bagian tembok ini dan membentuk sebuah lukisan
pohon keluarga. Meskipun tulisannya mulai memudar dimakan waktu, tapi
namaku masih tertulis jelas disana, mungkin di buat belum lama ini.
Ini semacam OOPArt (Out Of Place Artifact) meskipun ada namaku di
sana tapi aku sudah kehabisan ide. Agatha yang masih ngambek,
menyimpulkan kalau sistem kerjanya seperti
touchscreen. Berhubung di jamanku belum ada yang secanggih itu,
sisanya kuserahkan pada Agatha, semoga aja ini bisa bikin moodnya
lebih baik. Sepertinya usahanya mulai membuahkan hasil, lorong yang
baru saja kulewati tiba-tiba menjadi terang, selain itu dari salah
satu ubin muncul sebuah pilar. Diatasnya ada sepucuk surat dan
sebuah… HP ? Mungkin aku harus membiasakan diri dengan jaman yang
makin cepat ini. Tanpa seijinku, Agatha dengan cepat mengambil surat
yang pasti ditulis khusus untukku.
Untuk siapapun yang
membaca surat ini
Aku menitipkan anakku
satu-satunya setidaknya sampai Ia bisa menafkahi
dirinya sendiri. Apabila
setelah membaca surat ini anda tidak bisa menyanggupi
hal tersebut maka
mantra kutukan di bawah ini akan aktif .
“kegelapan
datang seiring dengan pergantian siang menjadi malam, hanya
kepedihan
yang luar biasa yang bisa membuatmu patuh”
P,S :
Bilang pada anakku kalau ayahnya sudah berhasil menyelesaikan serum
penawar
penyakitnya dan menggunakannya untuk memperbaiki selnya yang
rusak.
Natasha
Zeamermann
“ini gak
bercanda kan ?” tanya Agatha ketakutan.
“mantra
yang ditulis dengan darah vampire murni
gak pernah
meleset loh.” Jawabku menakut-nakuti.
Karena isi
suratnya cuma itu, mau gak mau, Agatha “dengan sukarela”
membiarkanku tinggal di rumahnya. Sepertinya ini lanjutan kode tadi,
bedanya surat yang ini ditulis oleh mama dengan tinta darah papa.
Soal HP tadi, dari luar keliatan kaya HP touchscreen biasa, begitu
kuaktifkan, dari layarnya muncul, semacam scanner, kucoba dengan
sidik jari gak ada efek, begitu kudekatkan ke mataku, scannernya
mulai berfungsi. Menurut Agatha, belum pernah ada dengan model kaya
gini sebelumnya, dan kemungkinan besar HP ini handmade, tapi siapa ya
? Perasaan papa sama sekali gak ngerti teknologi, mama ngerti cukup
banyak sih, tapi gak serumit ini. Siapapun yang buat, terima kasih
banyak. Karena udah gak ada kode atau yang lainnya, untuk sementara
aku akan tinggal di rumah Agatha

No comments:
Post a Comment